Tag Archives: catatan nano riantiarno

RENDRA (Catatan Nano Riantiarno)

20 Feb

Pertamakali saya bertemu langsung dengan WS Rendra, terjadi pada April 1968. Dia baru pulang dari Amerika Serikat dan membawa oleh-oleh, yang bagi Teater Indonesia, boleh dibilang asing. Geger tentu saja. Goenawan Mohamad menyebutnya, ‘Teater Mini Kata’. Itulah latihan-latihan dasar teater, yang menjadi sangat menarik ketika dipertunjukkan. Memang minim kata, nyaris hanya terdiri dari gerak dan bunyi. Meski begitu, pementasannya penuh makna.

Waktu itu, saya mahasiswa ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) dan anggota Teater Populer. Saya sudah melakukan pelatihan dasar teater selama berbulan-bulan tapi samasekali tak tahu kapan bakal naik pentas. Teguh Karya, guru kami, ikut pentas ‘teater mini kata’ Rendra. Entah bagaimana asal-muasalnya sehingga dia sampai terlibat. Belakangan, Rendra mengakui, Teguh Karya adalah dramawan yang berhasil mempengaruhinya sehingga dia bergiat dalam dunia teater. Dua anggota Teater Populer, Sylvia Nainggolan dan Dewi Sawitri (kini Doktor Psikologi), terlibat pula dalam ‘teater mini kata’ itu.

Pentas ‘teater mini kata’, yang digelar di auditorium Direktorat Kesenian (letaknya di belakang Gedung Toserba Sarinah Jalan Thamrin) pada April 1968, sungguh memukau. Nomor-nomor yang disajikan, antara lain; Bipbop, Piip, Di Manakah Kau Saudaraku, Rambate-Rate-Rata, dan Vignet Katakana. Kiprah para aktor yang mengusung pentas itu begitu inspiratif. Rendra, menjadi bintang yang menawan. Juga Putu Wijaya, Chaerul Umam, Amak Baldjun, dan Syubah Asa. Ada pula aktor-aktor lain yang tak kalah menarik. Dalam sebuah nomor, Teguh Karya hanya menyuarakan bunyi “Zzssszzzz …. Zzssszzzz …” saja. Dan Putu Wijaya berulang-ulang mengucap “Bipbop .. ” Dalam sebuah nomor lagi, Amak Baldjun pasang konsentrasi penuh dan samasekali tak terganggu, meski Chaerul Umam dengan berbagai cara coba menggodanya dengan tawa dan tindakan-tindakan yang lucu.
Baca lebih lanjut