Arsip | Cerpen RSS feed for this section

TANGIS BUKAN BAGIANKU

11 Mar

menangis itu bukan bagianku, tapi kadang aku menginginkan dia datang biar sakit ini bisa sedikit ditepiskannya. tapi air mata telah angkuh untuk mengisi ruang kosong di katub mata ini yang belingsatan. apa karena sumpah yang pernah kulontarkan untuk tak akan pernah menangis lagi, hingga sekarang air mata pada tangis enggan menyapa lara yang merasukku pada malam.

dan sekarang lelah letihku meraung tanpa basah, aku butuh air itu sekarang; biar tiada yang tertahan lagi. bukankah langit berpendar jingga masih ada hujan meski kadang aku bosan untuk menjadi gerimis diluar. pada pagi dan senjaku yang menjelang malam aku kian ditelanjangi pada bias perih yang merintih. meringkik sakit dan laskar jangkrik yang berderik tiada menghalau sepi yang menopang jiwa rintih ini.

Baca lebih lanjut

Kesendirianku

11 Mar

Malam dan detak jam menjadi teman diamku malam ini, meski dari tadi aku juga tahu ada seekor cicak yang asik mengintip dari celah ventilasi berserabut sarang laba – laba. Hanya diam dan menghitung kepekatan malam dalam hatiku, ada yang mengganjal dari 2 jam lalu selama aku melekatkan pantatku di kursi setengah basah ini. Entah, apa aku masih bisa menikmati kesendirianku malam ini atau harus memecah sunyi dengan berbincang kering bersama detak jam. Barusan ada yang terlintas tapi masih saja samar, ada yang sakit tapi aku lupa letaknya dimana, aku lupa dimana aku menaruh senyumku kemarin pagi.

Hem…kesendirian memang lebih nikmat dari sebuah ciuman mesra seorang kekasih, hem.. kesendirian memang lebih asik dari sebuah obrolan bersama kerabat dekat, hem..kesendirian memang lebih sepi dari bentangan gelap malam ini.
Baca lebih lanjut

ROMANTIKA KELABU

3 Feb

Cerpen ini ditulis Oleh Rita Puspita Sari, Juara Pertama (1) Lomba Menulis Cerpen Tingakat SLTA Se – Kab. Berau 2010

Sebuah kisah berawal dari dunia maya yang menggugat keceriaan masa. Kisah roman hidup dalam dua hati yang rapuh. Kerapuhan cinta di balik dinding hati yang belum sempat tersusun rapi. Entah mengapa aku yang menjadi protagonis didalamnya. Aku tak pernah menduga awalnya. Namun hukum alam yang menyutradaraiku dalam skenario drama hidup percintaan.
Siang itu mentari begitu terik dan membakar kulit ariku. Peluh mengalir sekujur tubuh membasahi baju almamater yang kukenakan saat itu. Dahaga pun mencekik leherku lalu menyentil buku-buku kerongkonganku. Geli rasanya, sehingga memaksakanku untuk meneguk cairan ion yang masih utuh dalam kemasan. Tasku memang begitu berat hari ini karena aku membawa laptop dan seperangkat buku-buku paket menyebalkan. Saat ini adalah jam pulang bagi anak Sekolah Menengah Atas sekitar pukul 02.30 pm. Cuaca yang tak bersahabat membuat aku enggan pulang dan seolah mengajakku untuk berteduh di sekitar pepohonan rindang di sebelah utara pekarangan sekolah.Tanpa berpikir panjang aku duduk di atas batu basal sembari membuka laptop dan menghidupkannya. Aku mengoneksi jejaring sosial yang marak dikalangan remaja maupun kalangan tua yaitu facebook dunia menamainya.
“Hah dua puluh permintaan teman? Cekcekcek”, hatiku bergumam. Mulailah satu persatu ku confirm permintaan pertemanan itu. Setelah itu aku menyempatkan diri untuk meng-update status tentang apa yang aku pikirkan hari ini. Tiba-tiba sesosok wajah ayu melintas dihadapanku dan menyapa “Hai kak, sendirian aja disini. Yuk kita pulang!” . Kata Sonia adik kelasku. Aku melempar senyum lalu bergegas mengikutinya.
Baca lebih lanjut

Ssst! Ada Sayap Malaikat di Punggungku

2 Feb

Cerpen ini ditulis Oleh Lingga, Juara Kedua (2) Lomba Menulis Cerpen Tingakat SLTA Se – Kab. Berau 2010

Sedih, sesal, rapuh, dan kecewa menyatu dalam hatiku, kompak mengiris-ngiris jiwa. “Apa yang bisa aku lakukan”, jeritku, bahwa aku hanyalah korban pelarian seorang lelaki. Cucuran air mata tak bisa aku bendung lagi. Aku menangis. Dan Alan lah penyebab semua itu. Cowok yang umurnya lebih tua setahun dengan ku, berkulit putih, memiliki hidung yang mancung, beralis tebal, pintar berkata-kata, dan ku rasa idaman para kaum hawa. Dia lah yang dengan sengaja menanam mawar-mawar cinta dalam hatiku, lalu duri-durinya ditusukkannya pula, sangat dalam dan pedih.
Larut malam, tangisku makin jadi. “Aku tak pernah menjalani hubungan hanya sebagai pelarian semata, tapi mengapa dia begitu tega menyakiti hati ini dengan menjadikan aku korban pelariannya?” Jeritku, di sela-sela isak tangis dan air mata. Entah berapa jam sudah aku menangis. Yang ku tahu kamar penuh dengan tissue basah karena air mata, juga buku-buku yang biasanya tersusun rapi di meja belajar kini berserakan di lantai, penuh sobekan, dan layak dilempar ke gudang. Semua sisi kamar menjadi berantakan bagai kapal pecah, terhempas ombak badai dan terdampar di pantai kekecewaan.
Jika sudah begitu, aku tak bisa mengontrol diri lagi. Tangisku menggila. Emosi yang meluap-luap dan rasa sakit dalam hatiku, tak bisa aku tahan lagi. Aku ingin marah dan mengumpat-ngumpat, tetapi pada siapa, hanya aku seorang diri dalam kamar. Aku melangkah ke cermin, dengan harapan menemukan bayangannya di sana. Biar dapat ku cakar seluruh wajahnya, atau menjabak rambut dan memecahkan bibirnya. Tapi yang ku dapati adalah diriku sendiri. Diriku yang bukan lagi diriku, sebab kini dia cengeng dan teramat rapuh, bahkan untuk berdiri dia tak bisa tegak. “Bagaimana kau akan mencakar dan memecahkan bibirnya, jika yang bisa kau lakukan hanya menangis seperti itu?” Oloknya padaku. Lalu seperti ada semacam kekuatan tiba-tiba muncul dari dalam cermin itu, bahwa aku harus kuat. Maka saat itu juga ku kumpulkan segenap ketegaranku yang tadinya meleleh bersama airmata hingga menjadi puing-puing berserakan di lantai. Ku bangun lagi sebuah menara ketegaran dalam jiwaku. Dan……, “Lupakan Alan”, tekadku dalam hati.
Baca lebih lanjut

BISIKAN MALAM

2 Feb

Cerpen ini ditulis Oleh Lingga, Juara Ketiga (3) Lomba Menulis Cerpen Tingakat SLTA Se – Kab. Berau 2010

Aku terlelap dikeheningan malam dalam sebuah kamar yang tak begitu luas, hembusan angin begitu terasa sangat kencang membuat ku tak berdaya bibir membisu dan bulu kuduk ku merinding. Tak pernah aku merasakan malam yang begitu mendebarkan, hembusan angin yang begitu kencang membuat korden jendelaku berterbangan jantungku berdetak kencang semakin membuatku takut, lalu kututupi diriku dengan selimut dan tak ku hiraukan semilir angin yang berhembus seakan membisikan sesuatu ditelingaku, lalu akupun terlelap hingga sang fajar datang menyapa.

Malam pun berganti pagi, aku bangun dan bergegas hendak pergi kesekolah, dan selalu tak lupa untuk pamit dengan kedua orang tuaku. Hari-hari aku jalani tanpa ada beban yang aku pikul, namun semenjak kejadian malam itu membuat ku tak tenang aku tak seperti biasanya, aku pun termenung dan termenung memikirkan kejadian tersebut. Setiba disekolah aku ceritakan semua kejadian yang aku alami kepada kedua sahabatku.

“Sani, tadi malam apakah kamu tidak merasakan kencangnya angin yang berhembus, seraya ingin merobohkan yang ada disekitarnya.”
“kamu ini aneh-aneh aja jingga tadi malam itu ga’ ada angin, justru malam itu terasa sangat panas.”
“ Iya san benar itu aneh-aneh aja si jingga, justru malam itu terasa sangat panas apakah karena menipis nya lapisan ozon, sehingga terasa sangat panas, ujar eka.”
“Benar sani dan eka aku ga’ bohong kalau malam itu sangat dingin disertai angin yang begitu kencang membuat bulu kuduk ku merinding tahu !!!.”
“Udah-udah kamu makin ngaco aja jingga, ujar sani.”
“Bener itu san mendingan kita masuk kelas, entar lagi bel masukan berbunyi, ujar eka.”

###
Baca lebih lanjut

The Dark Night

27 Jan

Cerpen ini ditulis oleh Sukmawardini, Juara 4 Lomba Menulis Cerpen 2010

Termenung ku di hadapan cermin, kembali ku lirik jam di dinding. Perasaan ku tak karuan, hati ini seakan di hantam batang duri, kerongkonganku seperti menelan keril, tak biasanya jika ku ingin bertemu Erik hatiku berdegup kencang, ku yakin ini bukan perasaan gembira, tapi mengapa ku tak gembira?
Hari ini adalah hari yang indah, karena dua tahun sebelum hari ini adalah hari saat Erik menyatakan cintanya padaku disekolah, dengan bunga Asoka yang di cabutnya dari halaman sekolah, Erik memang bukan cowok romantis, bahkan terkadang terlihat apa adanya. Dan tepat setahun yang lalu, saat kami merayakan setahun hari jadian kami, ia memberiku kalung bintang, di dalam bintang bergantung cincin emas polos. Yang membuatnya berkesan bukan karena kalung indah yang di berikanya, tapi makna kalung yang ia sampaikan, bahwa cintanya bagaikan bintang, dan cintaku bagaikan bulan yang dilambangkan oleh cincin. Bintanglah yang akan selalu menemani bulan, walau dingin, sepi, dan semua mahluk terlelap dalam lelah, bintang akan tetap bersinar menyempurnakan keindahan dunia dikala gelap bersama bulan. Namun hanya hujan yang bisa membuat bintang takan mampu menemani bulan, dan hujan itu adalah kematian, karena hanya kematian yang mampu memisahkanku dengan Erik.
Tak terasa air mata ku jatuh. Hatiku seakan di remas, aku tak tau apa yang terjadi, terlampau hancur hatiku. Semakin miris, pilu, terguncang. Aku sendiri bingung, sebenarnya apa yang terjadi padaku. Ku genggam kalung yang di beri Erik padaku, kembali kulirik jam di dinding, jarum panjangnya menuding angka 6, sedangkan jarum yang lebih pendek menuduh angka 9. Perasaanku semakin tak karuan, tak terlalu lama, mataku terpejam.
Dalam sayup-sayup embun, Erik menggenggam kedua tanganku, di ciumnya keningku, aku meneteskan air mata, karena di wajahnya tersirat luka pilu yang membuatku tak mampu menahan tangis. Ia memelukku erat, dalam dingin malam, ia mampu menghangatkanku.
“Inilah makna bulan dan bintang di diri kita, kita hanya mampu dipisahkan oleh kematian, tapi ingatlah walau kematian itu datang, cinta masih akan hidup, karena walau tak ada bintang, bulan masih mampu menyinarai dunia, namun tak selamanya bintang pergi, bintang akan kembali untuk bulan”. Desah Erik di telingaku, suaranya pilu, menusuk sukmaku. Sambil terisak, dilepasnya cincin dari kalungku, dan di sisipkannya cincin itu di jari manisku, dengan terengah-engah ia berkata “ Suatu hari nanti, bintang kan kembali bersama bulan”.
Saat ku buka mata, ku rasakan mataku membengkak, teringatku pada mimpi yang baru ku alamai, aku pun kembali hanyut dalam tangis, mimpi yang sangat tak ku harapkan tuk terjadi, mungkin hanya kekecewaan karena Erik tak datang menjemputku untuk merayakan hari jadian kami yang kedua, dan syukurlah itu hanya mimpi. Tapi, sekolah takan mungkin libur hanya karena kelalaian Erik. Seusai mandi, kulihat pantulan diriku di cermin. Aku tersentak, dimana cincin dalam bintang dikalungku? Detak jantungku seolah berkejaran dengan desiran darah yang mengalir dalam tubuhku, saat ku sadari ternyata cincin itu telah bertandang dijari manisku. Tak ingin ambil pusing, segera kubergegas kesekolah, tak sabar mendengar penjelasan Erik.
Digerbang sekolah anak-anak sekolahku berkerumunan, kudekati dengan degup jantung yang entah mengapa semakin cepat, ketika ku sampai, semua orang memandangku heran, dan aku pun tak kalah heran pulansaat kulihat mobil Erik melintang bahkan ban depanya nyaris jatuh

Baca lebih lanjut

TULISAN TERAKHIR

27 Jan

Cerpen ini di tulis oleh Tiara Geminita, Juara ke 5 Lomba Menulis Cerpen 2010

Terik matahari menyinari kota Sanggam siang itu. Panas yang menyelimuti kota, debu-debu yang beterbangan akibat padatnya kendaraan yang berlalu-lalang dan menyebabkan polusi udara meningkat disiang itu. Sebuah truk penuh berisi serdadu-serdadu bermuka keras menderu diatas jalan yang juga dipenuhi kendaraan lainnya. Keringat bercucuran diatas tubuh orang-orang yang sedang sibuk dengan urusan mereka akibat panas disiang itu. Terlihat dua anak perempuan memakai seragam putih abu-abu yang menaiki sepeda motor sendiri-sendiri. Salah seorang dari mereka sedang serius memperhatikan jalan didepan, sedang yang satu memulai pembicaraan.
“Bel, nggak terasa ya, akhirnya Ujian Nasional selesai juga hari ini. Oh ya, kamu mau kuliah dimana bel?” tanya salah seorang dari mereka sambil sibuk melihat kekanan dan kekiri jalan.
“Entahlah Laras, aku juga bingung.” Bela pun menjawab dengan singkat. Laras terdiam dan mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali. Mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing tanpa berbicara lagi.
Bela dan Laras sudah lama berteman. Mereka berteman mulai kelas satu SMA. Dan sekarang mereka sudah kelas tiga dan baru saja selesai mengikuti Ujian Nasional siang itu.
*****
Baca lebih lanjut