Lebih Dekat Dengan Teater Koma

16 Feb

TEATER KOMA

BIOGAFI

TEATER KOMA didirikan 1 Maret 1977. Diikrarkan oleh 12 pendirinya, yaitu; N. Riantiarno, Ratna Madjid, Sjaeful Anwar, Rudjito, Rima Melati, Jajang Pamontjak, Titi Qadarsih, Cini Goenarwan, Jimi B. Ardi, Otong Lenon, Zaenal Bungsu dan Agung Dauhan, di rumah Abdul Madjid, Jalan Setiabudi Barat No.4, Jakarta Selatan.

Nama grup disepakati; TEATER KOMA. Koma, metafora yang mengartikan ‘gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tiada ada henti, tak mengenal titik’. Punya nafas panjang, senantiasa berkiprah, mengembara dalam ruang kreatifitas, terus mencari dan berupaya menemukan hal-hal yang bermakna.

Pentas perdananya, Rumah Kertas, karya dan sutradara N. Riantiarno. Digelar di Teater Tertutup PKJ-TIM, 2-3 dan 4 Agustus 1977.

Pentas-pentas TEATER KOMA agaknya kena di hati masyarakat. Mengikat kalbu sehingga mereka rela jadi penonton setia. Menurut survei, penonton TEATER KOMA yang setia menonton sejak 1977 hingga 2010, berjumlah sekitar 50% dari seluruh jumlah penonton. Ternyata telah terjadi regenerasi di kalangan penonton. Tiga generasi (kakek, anak, cucu) sering menonton bersama. Hal yang sangat mengharukan. Dan tentu saja menggembirakan.

Dalam perjalanan, memang terjadi berbagai hal yang memprihatinkan. Antara lain interogasi terhadap N. Riantiarno, kecurigaan, pencekalan, juga ancaman bom. Semua itu harus diikhlaskan sebagai dinamika perjalanan kreatifitas berteater. Dan sejauh ini masih bisa dilakoni dengan tenang. Sikap ‘koma’ tetap diyakini. Berfikir positif, harapan tak boleh pupus. Barangkali itu, salah satunya, yang bikin TEATER KOMA masih berkiprah. TEATER KOMA, kelompok independen yang bersifat non-profit. Anggotanya tak hidup dari penghasilan teater, tidak mengandalkan perolehan dari pergelaran. Sebagian besar memiliki pekerjaan lain di luar teater.

Bagi sebagian anggota yang memilih teater sebagai ‘jalan hidup’, akibat kegiatannya (yang nyaris tak menghasilkan uang) diyakini sebagai resiko dari sebuah pilihan. Bukan jaminan TEATER KOMA didatangi banyak penonton, ataupun keberhasilannya dalam meraih sponsor. Seluruh biaya produksi, jika dihitung secara benar dan rinci, selalu takkan bisa ditutupi dari hasil perolehan karcis dan sponsor sekalipun. Itu kenyataan.

TEATER KOMA adalah paguyuban kesenian, bukan perusahaan. Kegiatannya tetap bersifat amatir, yang berarti; ‘anggotanya tak memperoleh hasil dari pekerjaannya sebagai penopang utama biaya hidup sehari-hari’. Mereka mensubsidi sendiri kegiatannya, sebuah ‘hobi serius’ yang dilakoni secara dedikatif, ikhlas dan gembira. Itu penting diungkap, karena selama ini sering terjadi salah pengertian.

Meski banyak yang menganggap manajemen TEATER KOMA patut diacungi jempol, kondisi keuangan kelompok, serupa dengan grup-grup teater yang ada di tanah air. Selalu pusing kepala dan lintang-pukang setiap kali merencanakan produksi baru. Keikhlasan hati para anggota dalam menyikapi kondisi tersebut, juga kesetiaan para penonton hadir dalam pentas dan membeli karcis, merupakan modal utama. Sejak awal, ‘TEATER KOMA bagai ikan dan masyarakat adalah airnya’. Tanpa air, ikan bukan apa-apa.

Memang kenyataan, Masyarakat Teater Modern Indonesia sering merasa, pemerintah nyaris tak punya: Atensi, Visi, Strategi, Transparansi dan Aksi (‘tindakan terkonsep yang berkelanjutan’). Teater Modern Indonesia, sejauh ini bergerak sendiri, dengan cara-cara yang kreatif membentuk masyarakatnya sendiri. Kondisi itu, sekaligus memberitahu seakan pemerintah tak merasa memiliki Teater Modern Indonesia. Sikapnya memberi kesan tak bersahabat, malah sering bercuriga.

Tapi apa pun terjadi, ‘The Show Must Go On’. Ada dukungan dari pemerintah atau tak ada, ada ‘pembinaan’ ataupun malah ‘pembinasaan’, Teater Modern Indonesia harus tetap berkiprah. Itulah sikap teguh dari sebuah pilihan. Ikrar melakoni lakon yang sudah digariskan oleh kreatifitas. Sebuah lakon teater yang ‘koma’, senantiasa berkelanjutan dan hidup!

PROFIL

N. RIANTIARNO lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Ayahnya, M. Soemardi dan ibunya, Artini. Berteater sejak 1965, di Cirebon. Tamat SMA, 1967, melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta. Bersama Teguh Karya mendirikan TEATER POPULER, 1968. Pada 1978 menikahi Ratna Madjid, dan dikaruniai tiga putra; Satrya Rangga Bhuana, Rasapta Candrika dan Gagah Tridarma Prastya.

Mendirikan TEATER KOMA, 1 Maret 1977. Hingga 2010, menggelar 119 produksi panggung dan televisi. Skenario filmnya, Jakarta Jakarta, meraih Piala Citra pada FFI, Festival Film Indonesia, 1978. Sinetronnya, Karina, meraih Piala Vidia FFI 1987. Merebut lima hadiah Sayembara Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta.

Novel Ranjang Bayi dan Percintaan Senja, meraih hadiah Sayembara Novelet Majalah FEMINA dan Sayembara Novel Majalah KARTINI. Meraih Hadiah Seni dari Departemen P&K, 1993. Pada 1999 meraih penghargaan dari Forum Film Bandung untuk serial film televisi Kupu-kupu Ungu sebagai Penulis Skenario Terpuji 1999. Forum yang sama mematok film televisi karyanya Cinta Terhalang Tembok, sebagai Film Miniseri Televisi Terbaik, 2002. Juga, menulis novel trilogi: Cermin Merah, Cermin Bening dan Cermin Cinta.

Pada 1975, berkeliling Indonesia mempelajari teater rakyat dan kesenian tradisi. Keliling Jepang atas undangan Japan Foundation, 1987 dan 1997. Tahun 1978, mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, USA. Partisipan International Word Festival, 1987, dan New Order Seminar, 1988, di Autralia National University, Canberra. Memperbincangkan Teater Indonesia di Cornell University, Ithaca, USA, 1990, juga di kampus-kampus universitas di Australia, 1992. Pada 1996, partisipan aktif pada Session 340, Salzburg Seminar di Austria.

Pernah menjabat Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1985-1990). Anggota Komite Artistik Seni Pentas untuk KIAS (Kesenian Indonesia di Amerika Serikat), 1991-1992. Anggota Board of Artistic Art Summit Indonesia, 2004 dan 2007. Anggota BP2N (Badan Pertimbangan Perfileman Nasional), 2007-2009.

Menulis dan menyutradarai 6 pentas multimedia-kolosal: Rama-Shinta (1994), Opera Mahabharata (1996), Opera Anoman (1998), Bende Ancol (1999), Rock Opera (2003), Anomali Vs Anomi (2005).

Ikut mendirikan majalah ZAMAN, 1979, dan bekerja sebagai redaktur (1979-1985). Ikut mendirikan majalah MATRA, 1986, dan bekerja sebagai Pemimpin Redaksi. Pada tahun 2001, pensiun sebagai wartawan. Kini berkiprah hanya sebagai seniman dan pekerja teater.

Beberapa karyanya bersama TEATER KOMA, batal pentas akibat masalah perizinan dari pihak yang berwajib. Yakni: Maaf.Maaf.Maaf. (1978), Sampek Engtay (1989), Suksesi, dan Opera Kecoa (1990). Akibat pelarangan, rencana pentas Opera Kecoa di Tokyo, Osaka, Fukuoka, Hiroshima, 1991, urung digelar. Tapi Opera Kecoa, pada Juli 1992, dipanggungkan Belvoir Theatre, salah satu teater garda depan di Sydney, Australia.

Pada 1998, menerima Penghargaan Sastra 1998 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Dan sekaligus meraih SEA WRITE AWARD 1998 dari Raja Thailand, di Bangkok, untuk karyanya Semar Gugat.

Pada 1999, menerima Piagam Penghargaan dari Menparsenibud (Menteri Pariwisata Seni & Budaya), sebagai Seniman & Budayawan Berprestasi. Juga, meraih FTI AWARD (Federasi Teater Indonesia) 2008. Karya pentasnya Sampek Engtay, 2004, masuk MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai karya pentas yang telah digelar selama 80 kali selama 16 tahun.

Menyutradarai Sampek Engtay di Singapura, 2001, dengan pekerja dan para aktor dari Singapura. Ikut mendirikan Asia Art Net, AAN, 1998, organisasi seni pertunjukan yang beranggotakan sutradara-sutradara Asia. Menjabat artistic founder dan evaluator dari PPAS, Practise Performing Art School di Singapura. Pengajar Pasca-Sarjana pada Insitut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Kontak
Teater Koma
Jl. Cempaka Raya No.15, Bintaro 12330 Jakarta
Phone : +62 21 7350460,+62 21 7359540; +628161859088
Email : rnr@centrin.net.id, info@teaterkoma.org
Website : http://www.teaterkoma.org

Source : Kelola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: