ROMANTIKA KELABU

3 Feb

Cerpen ini ditulis Oleh Rita Puspita Sari, Juara Pertama (1) Lomba Menulis Cerpen Tingakat SLTA Se – Kab. Berau 2010

Sebuah kisah berawal dari dunia maya yang menggugat keceriaan masa. Kisah roman hidup dalam dua hati yang rapuh. Kerapuhan cinta di balik dinding hati yang belum sempat tersusun rapi. Entah mengapa aku yang menjadi protagonis didalamnya. Aku tak pernah menduga awalnya. Namun hukum alam yang menyutradaraiku dalam skenario drama hidup percintaan.
Siang itu mentari begitu terik dan membakar kulit ariku. Peluh mengalir sekujur tubuh membasahi baju almamater yang kukenakan saat itu. Dahaga pun mencekik leherku lalu menyentil buku-buku kerongkonganku. Geli rasanya, sehingga memaksakanku untuk meneguk cairan ion yang masih utuh dalam kemasan. Tasku memang begitu berat hari ini karena aku membawa laptop dan seperangkat buku-buku paket menyebalkan. Saat ini adalah jam pulang bagi anak Sekolah Menengah Atas sekitar pukul 02.30 pm. Cuaca yang tak bersahabat membuat aku enggan pulang dan seolah mengajakku untuk berteduh di sekitar pepohonan rindang di sebelah utara pekarangan sekolah.Tanpa berpikir panjang aku duduk di atas batu basal sembari membuka laptop dan menghidupkannya. Aku mengoneksi jejaring sosial yang marak dikalangan remaja maupun kalangan tua yaitu facebook dunia menamainya.
“Hah dua puluh permintaan teman? Cekcekcek”, hatiku bergumam. Mulailah satu persatu ku confirm permintaan pertemanan itu. Setelah itu aku menyempatkan diri untuk meng-update status tentang apa yang aku pikirkan hari ini. Tiba-tiba sesosok wajah ayu melintas dihadapanku dan menyapa “Hai kak, sendirian aja disini. Yuk kita pulang!” . Kata Sonia adik kelasku. Aku melempar senyum lalu bergegas mengikutinya.

Selang beberapa hari handphone-ku berdering tanda pesan masuk. Nampaknya nomor ponsel baru yang sama sekali tak ku kenal. Hatiku pun tak luput terkelebat dalam tanda tanya raksasa yang menyelubungi saraf otakku.
“Hai cewek boleh kenalan nggak?”, begitu isi pesannya. Tiba-tiba ekspresiku begitu kikuk, ada secuil kejengkelan menjamah hati dan berjuta dugaan melintas, menari-nari dan mengejek di setiap kerjapan mataku.
“Ah pasti temen yang usil nih ngerjain aku”, hatiku bergumam. Aku pun membalasnya sesingkat mungkin. Tanpa ku duga dia pun menelpon.
“Hai kamu kok ketus banget sih?”, katanya dari seberang sana.
“Kamu pasti temen dekatku yang ngerjain. Ayo deh ngaku. Mana mungkin kan kamu tahu nomorku kalau nggak kenal aku”, jawabku ketus.
“Ehm, lupa ya kalau punya facebook? Beberapa hari lalu kamu confirm FB-ku jadi, aku membuka infomu dan mengambil nomor teleponmu”.
“Oh begitu”
Sejak saat itu SMS pun berlanjut. Sepi rasanya jika tak menanyakan kabar tentangnya. Meski belum kenal, namun aku merasakan begitu dekat seperti api dengan panasnya, dan kain dengan kapas. Bukan sekedar itu namun dibumbuhi dengan puisi sebagai pengisi dan penyedap sebuah pesan. Kebetulan aku menyukai puisi-puisi yang ku jadikan sebagai teman keseharianku.
Ketika itu malam begitu sunyi, hembusan Sang Bayu pun menjuntaikan anak-anak rambut yang terjulur dari dahiku. Kedinginan pun masih menembus celah-celah baju tidurku. Sembari memandang Dewi Malam, aku menerawang nun jauh disana Sang Bintang yang berkelip nan indah. Aku sendirian di beranda rumahku saat itu. Karena Papa dan mamaku asyik berbincang ditengah kekelaman. Sedangkan adikku tak dapat lagi diajak kompromi ataupun diganggu gugat jika berhadapan dengan kotak elektronik penghipnotis, televisi. Tiba-tiba ada pesan masuk pembuyar kesepianku. Hatiku tertawa, riang dan entah apalagi yang berbaur dengan perasaanku. Hingga akhirnya aku mengirimkan sebuah puisi pengantar tidur kepada nomor keramat yang tak jelas siapa pemiliknya.
“Putri, ayolah masuk ke dalam. Sudah larut malam, matikan HP lalu tidur!”, Mamaku berteriak mengingatkan.
“Iya Ma”. Jawabku singkat. Tak seperti malam-malam biasanya aku merasakan kegelisahan yang meresahkan. Namun aku paksakan kelopak mata ini terpejam hingga pagi menjelang.
Tiada hari tanpa SMS-nya. Begitu pun aku semakin penasaran. Aku pun memberanikan diri untuk meminta alamat facebooknya.
“Halo, tumben menelponku ada apa gerangan?”
“Bolehkah aku minta alamat facebookmu? Aku penasaran. Masa kamu saja yang bisa melihat fotoku kan nggak adil”
“Hahaha”, dia tertawa “Boleh-boleh saja. Nanti ku kirim alamatnya melalui SMS. Oke?”
“Oke lah kalau begitu. Tapi sejauh ini aku belum tahu namamu loh”
“Panggil saja aku Rio”.
Tak lama kemudian dia mengirimkan alamat facebook-nya dan bergegas aku membuka alamat itu.
“Oh ini toh orangnya? Wajahnya lumayan cakep, hahahaha”. Aku hanya bisa tersenyum dan tak sanggup memberikan banyak komentar.
Telah hampir sebulan lamanya aku berhubungan melalui dunia maya. Tak lengkap rasanya jika tak menatap sosok nyata seorang manusia yang menggugahku beralih dari mimpi. Dia pun mengajakku untuk bertemu .
“Putri, bolehkah besok aku melihat wajahmu? Sebentar saja. Itu pun kalau kamu nggak sibuk”.
“Aku memang nggak sibuk besok. Tapi kita kan belum saling mengenal, aku nggak berani ketemuan”. Kataku.
“Aku bukan orang jahat, Putri. Maka dari itu aku ingin lebih mengenalmu”.
“Aku pikir-pikir dulu deh. Nanti ku kabari kalau aku mau ketemuan”.
“Ya sudahlah. Bye”
“Bye”. Telepon terputus.
Akhirnya aku memutuskan bertemu dengannya. Namun ada perasaan asing yang menghujam. Kegugupan telah merajai otakku tak luput keringat dingin merembes keselah-selah hatiku. Dia bertanya dan aku menjawabnya itulah sepanjang perjalanan kenangan yang ku tempuh bersamanya di sebuah danau mungil yang terpapar di pinggiran negri sempit dan bukit roman yang diintai oleh burung elang bersayap cinta.
“Danau ini begitu jernih ya. Coba lihat orang yang sedang memancing itu! Dia nggak kesusahan mencari tempat yang banyak ikannya. Toh ikannya tembus pandang meski didasar air”.
Aku hanya mengangguk. “Kamu kok diam terus dari tadi gugup ya? Hihihi ngaku saja lah!”. Ledek Rio.
“Iiih nggak kok. Mungkin kecapean saja. Dari tadi kan kita jalan-jalan terus, badanku jadi pegal-pegal”.
“Maaf deh aku sudah bikin kamu begini”.
“Hmmm.. Nggak apa-apa kok. Kita ikut mancing yuk!”
“Kita nggak membawa pancing de”.
“Ya sudahlah kalau begitu”.
“Hahaha. Kita pulang saja”.
Terik mentari telah menghalau sepi dan cumbu elang menari-nari ikut menghiasi romantika ketika itu. Walaupun ada sedikit kegugupan dalam hati tetapi memang sungguh indah ketika bersamanya. Kenangan pertamaku jalan bersamanya membuat keseharianku tak normal lagi aku sering terlalu memikirkannya dan menangis kala aku mengingat wajahnya. Keadaan itu mengguncang alam khayalku. Akan kusimpan kenangan itu dalam album cintaku agar takkan hilang dimakan waktu tanpa kusadari dia telah masuk dalam sejarah hidupku menjadi file terindah dalam album hatiku yang selalu terputar pada slide-slide film otakku. Ku akui aku bahagia mengenalnya.
“Iiih Mbak Putri kok senyum-senyum sendiri sih? Ada apa sih?”.
“Anak kecil nggak boleh tahu”.
“Nanda kan sudah besar, Mbak. Coba lihat badanku sehat dan kuat yang jelas lebih besar dari Mbak Putri”. Aku pun mencubit pipi mungilnya “Ih kamu ini memang adikku yang paling bisa deh gangguin Mbak”
“Hmmm.. Nanda bisa tebak nih”
“Hayoo apa?”
“Mbak Putri jatuh cinta kan?”
“Hush”, aku menutup mulutnya “jangan asal ngomong ah. Kamu tidur saja sana!”. Nanda tidak berkomentar lagi, mengernyitkan dahi, menggeleng lalu bergegas pergi.
Sebuah klimaks dalam hubungan samar yang tercetak karena kebutaan hati dan tuli mendengar suara hati yang mendorong untuk bertemu kedua kali dan bahkan berkali-kali. Aku tak pernah marah tapi aku akan menyesal. Kami tak serius namun urat-urat malu selalu berteriak mengingatkanku. Kini aku bertahan menahan badai tanya akan selembar status tak berjamah. Lelaki itu merobek sayap-sayap langit resah dipunggung senja. Memerah lalu air matanya kemarau dan galau meneriakkan gejolak amarah. Lalu ku jejang genderang petang seolah siklus dosa hidup baru dimulai. Kini aku terombang ambing dalam kebingungan. Apakah ini perasaan cinta atau hanya sekedar suka??
“Kamu kenapa sih, Putri? Pertemuan yang kesekian kali ini, kamu berubah. Bukankah aku sudah mengatakan dan memberikan segenap cintaku kepadamu?”. Tanya Rio penuh harap.
“Maksudmu aku apanya yang berubah, Rio?”
“Sikapmu padaku. Kamu marah?”.
“Entah”.
“Jawabnya kok begitu?”.
“Ya karena aku nggak tahu dengan perasaan ini”.
“Cobalah kamu jujur padaku!”
“Wanita berjilbab biru berparas ayu yang kamu bonceng hari minggu kemarin siapa? Aku lihat kalian romantis jalan berduaan”.
“Hmm.. itu kakakku”. Jawabnya lunglai.
“Benarkah?”.
“Iya. Sudahlah jangan cemberut lagi, senyum dong!”. Aku pun tersenyum dan rasa cemburu itu menghilang entah kemana, sirna bersama sirnanya keraguanku padanya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Rasa cintaku padanya semakin mendalam. Karena kami telah menjalin hubungan cinta yang bernama pacaran. Kata-kata romantisnya seakan membawaku terbang tinggi menggapai cakrawala. Kini hujan rintik-rintik namun tak berangin. Aku sengaja menelusuri gang-gang kecil yang tak jauh dari rumahku. Aku melihat anak usia 6 tahun berdiri dipinggiran jalan. Aku hanya mengamatinya dari jarak agak jauh..
“Ayah cepat kita pulang, aku kedinginan. Kasian Ibu di rumah pasti khawatir, ini kan hampir magrib”. Kata anak itu kepada salah seorang lelaki yang sedang membeli sesuatu di warung kecil.
“Iya sayang”. Lelaki itu pun berjalan mendekati anak itu. Alangkah terkejutnya setelah ku kenali lelaki itu adalah Rio.
“Rio tunggu!”. Aku berlari mendekati Rio.
“Siapa wanita ini, Ayah?”. Tanya anak itu. Aku terperangah mendengar panggilan ayah.
“Ini anakmu, Rio? Mengapa dia memanggilmu ayah?”. Rio hanya diam membisu, tidak suara yang terlontar dari bibirnya. Dia tertunduk bingung apa yang akan dia katakan.
“Mbak ini siapa ya? Ini ayahku”. Kata anak itu polos.
“Ayahmu?”, kataku. Lalu aku menatap tajam wajah Rio “Tolong jawab sejujurnya, Rio. Apa yang terjadi diantara kita selama ini?”
“Maafkan aku, Putri”. Akhirnya Rio membuka mulut,”Sebenarnya aku telah memiliki istri dan anak. Beberapa minggu lalu wanita yang kau cemburui adalah istriku”. Spontan aku menampar wajah lelaki itu “Laki-laki brengsek!”. Aku menangis dan pergi meninggalkan mereka.
Betapa hatiku hancur berantakan saat dia mengatakan hal yang begitu menyakitkan. Entah apa yang terjadi setelah itu. Aku merasa semua ini hanya mimpi yang seketika aku dapat terbangun dari mimpi buruk itu, begitu jauh dari dugaanku. Dia begitu tega menjadikanku pelarian cinta palsu. Dan kini aku mengurung diri di kamar yang begitu sederhana. Tumpukan buku yang tersusun di rak-rak terlihat seperti duri yang siap menghujamku. Seperti Iblis yang menertawakanku terpuruk dalam kehancuran. Memang malam itu waktu yang tepat untuk menentukan duniaku. Terang atau gelapkah pandangan mataku setelah detik ini berlalu. Kesedihanku tak mampu lagi membuatku menangis. Rasa sakit yang menghujam tak mampu lagi membuatku merintih. Kekecewaan yang mendalam mengantarkanku dalam keputusasaan. Dia telah menjadi lelaki pertama yang mengantarkanku membenci semua lelaki. Tak ku indahkan lagi hal-hal yang terjadi padaku. Aku hanya menatap lekat-lekat segala sesuatu yang mengintari tubuhku. Namun, aku begitu ngilu merongrong cinta yang sedikit mengiris selaput nyawaku. Aku masih diam terpaku ditengah keremangan lampu pijar yang menggelantung di langit-langit. Ah, aku menarik napas panjang semoga mengurangi penatku malam ini. Riuh dan hiruk pikuknya rumahku namun tak mampu lagi menembus gendang telingaku. Semuanya begitu senyap ku rasa seperti senyapnya hatiku saat ini. Aku semakin bingung mengarahkan jalur hidupku. Mungkin ini begitu berat perasaan yang hinggap dalam diriku. Kisah cintaku hidup seperti benalu menjadi parasit yang menjangkit kehidupanku. Aku ingin seperti simbiosis mutualisme merasa diuntungkan dan tidak merasa dirugikan. Kini tubuhku penuh racun-racun yang siap menggerogoti ulu hati. Cutter yang tertengger di kotak pensil, ku pandang begitu indah. Bagai kembang api yang meluncur di cakrawala dan akan jatuh menancap tepat di urat nadiku. Aku tak menangis waktu itu. Karena hatiku telah membatu dan aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Selamat tinggal Dua Ribu Sepuluh.

The End

Biodata Penulis :

Nama : Rita Puspita Sari
T.T.L : Lampung, 11 Januari 1993
Alamat : Jl. Bukit Berbunga , Sambaliung
Agama : Islam
Sekolah : SMA Negeri 4 Berau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: