Ssst! Ada Sayap Malaikat di Punggungku

2 Feb

Cerpen ini ditulis Oleh Lingga, Juara Kedua (2) Lomba Menulis Cerpen Tingakat SLTA Se – Kab. Berau 2010

Sedih, sesal, rapuh, dan kecewa menyatu dalam hatiku, kompak mengiris-ngiris jiwa. “Apa yang bisa aku lakukan”, jeritku, bahwa aku hanyalah korban pelarian seorang lelaki. Cucuran air mata tak bisa aku bendung lagi. Aku menangis. Dan Alan lah penyebab semua itu. Cowok yang umurnya lebih tua setahun dengan ku, berkulit putih, memiliki hidung yang mancung, beralis tebal, pintar berkata-kata, dan ku rasa idaman para kaum hawa. Dia lah yang dengan sengaja menanam mawar-mawar cinta dalam hatiku, lalu duri-durinya ditusukkannya pula, sangat dalam dan pedih.
Larut malam, tangisku makin jadi. “Aku tak pernah menjalani hubungan hanya sebagai pelarian semata, tapi mengapa dia begitu tega menyakiti hati ini dengan menjadikan aku korban pelariannya?” Jeritku, di sela-sela isak tangis dan air mata. Entah berapa jam sudah aku menangis. Yang ku tahu kamar penuh dengan tissue basah karena air mata, juga buku-buku yang biasanya tersusun rapi di meja belajar kini berserakan di lantai, penuh sobekan, dan layak dilempar ke gudang. Semua sisi kamar menjadi berantakan bagai kapal pecah, terhempas ombak badai dan terdampar di pantai kekecewaan.
Jika sudah begitu, aku tak bisa mengontrol diri lagi. Tangisku menggila. Emosi yang meluap-luap dan rasa sakit dalam hatiku, tak bisa aku tahan lagi. Aku ingin marah dan mengumpat-ngumpat, tetapi pada siapa, hanya aku seorang diri dalam kamar. Aku melangkah ke cermin, dengan harapan menemukan bayangannya di sana. Biar dapat ku cakar seluruh wajahnya, atau menjabak rambut dan memecahkan bibirnya. Tapi yang ku dapati adalah diriku sendiri. Diriku yang bukan lagi diriku, sebab kini dia cengeng dan teramat rapuh, bahkan untuk berdiri dia tak bisa tegak. “Bagaimana kau akan mencakar dan memecahkan bibirnya, jika yang bisa kau lakukan hanya menangis seperti itu?” Oloknya padaku. Lalu seperti ada semacam kekuatan tiba-tiba muncul dari dalam cermin itu, bahwa aku harus kuat. Maka saat itu juga ku kumpulkan segenap ketegaranku yang tadinya meleleh bersama airmata hingga menjadi puing-puing berserakan di lantai. Ku bangun lagi sebuah menara ketegaran dalam jiwaku. Dan……, “Lupakan Alan”, tekadku dalam hati.

Tapi tahukah? Tak ada seorang pun manusia yang bisa melupakan sesuatu begitu cepatnya, seperti kau memakan kacang lalu kau buang kulitnya. Selesai, kau lupakan. Atau seperti menghapus sebuah file pada layar komputer, lalu kau sudahi begitu saja. Karena itu tidak berlaku padaku dan ingatanku tentang Alan. Ada saja sesuatu yang membawa ingatanku padanya. Itu membuatku jadi berubah. Hari-hari ku hadapi dengan emosi dan rasa sepi yang tak bisa ku hindari. Di sekolah aku jadi cewek yang pendiam, cengeng, sensitif, dan sering melamun lalu menangis tanpa sebab. Kegiatan-kegiatan dan pelajaranku semua menjadi kacau. Aku jadi susah konsentrasi dan bawaannya selalu saja ingin marah. Dan hasilnya,,,,nilaiku hancur. Itu adalah fase paling buruk dalam kehidupanku selama ini.
****
Begini, ada sebuah ungkapan mangatakan “Badai pasti berlalu”. Ku rasa itu juga terjadi padaku. Setelah lama vakum, aku mulai aktif kembali pada kegiatan-kegiatan ku yang dulu, menjadi pemandu sorak dan anggota klub dancing sekolah. Sebenarnya, selain aktif pada kegiatan sekolah, aku juga aktif pada sebuah sanggar tari agak jauh dari tempat tinggalku. Dan khusus untuk sanggar tari ini, aku memutuskan untuk berhenti. Ketika ditanyai oleh pembina alasanku mengapa harus keluar, aku bilang bahwa aku terlalu banyak mengikuti kegiatan sampai-sampai mengabaikan pelajaranku di sekolah hingga nilai-nilaiku ambruk. Aku harus lebih banyak menggunakan waktu untuk belajar dan memperhatikan pelajaranku di sekolah. Itu cukup masuk akal karena sebentar lagi sekolahku akan mengadakan Ujian Kenaikan Kelas, dan alasanku di terima. Padahal sebenarnya bukan karena itu, tapi Alan. Di sanggar itulah aku bertemu dengan Si Alien Alan dan terjebak dengan ayat-ayat gombal cintanya. Jika tidak, setiap saat aku akan bertemu dengannya di sanggar, dan itu akan menyiksaku dengan kenangan dan rasa sakit yang dibuatnya padaku. Jadi, aku memutuskan untuk keluar dari sanggar itu. Aku sempat sedih, karena di sana aku mendapatkan banyak pelajaran tentang kesenian, utamanya seni tari. Tapi mau gimana lagi. Dengan begitu aku bisa lepas dari bayang-bayang Alan, si Alien dengan mulut berbisa itu, dan menjalani hari-hariku berikutnya dengan tenang.
****
Sebenarnya, di sekolah diam-diam aku menyukai lelaki teman sekelasku. Namanya Raka, musuh bebuyutanku dari SD hingga SMA sekarang ini. Raka juga adalah idaman para cewek di sekolahku. Bagaimana tidak, Raka memiliki badan yang proposional, tinggi, kulitnya putih, hidungnya mancung, rasa gengsi yang tinggi sekali, dan tatapan matanya membuat cewek-cewek takluk dengannya. Dan itu cukup merisaukan hatiku.
Aku rasa perasaan suka itu sudah ada sejak lama, bahkan saat kami sama-sama di kelas 3 SD. Semua teman-temanku saat itu tahu, bahkan ku rasa wali kelas juga tahu kalau aku suka sama Raka. Dan entah bagaimana, di kelas aku selalu dipasangkan duduk sebangku dengan Raka. Ku rasa itu adalah takdir, karena di SMA, sekolahku saat ini aku juga harus duduk sebangku dengannya. Padahal kami sejak dulu tidak pernah akur, ada saja persaingan yang membuat kami harus saling ejek, bertengkar dan saling memusuhi. “Tom and Jerry”, kurasa sangat sepadan dengan kami. Benci tapi suka, oh..sungguh itu perasaan yang menyiksa.
Perasaan suka ku terhadap Raka tak pernah aku ungkapkan dan tak pernah aku tampakkan hingga saat ini. Dengan sengaja ku tampakkan kebencianku padanya, karena aku tahu perasaan sayang itu pasti bertepuk sebelah tangan. Tapi aku juga tak bisa menahan emosi saat aku melihat dia berada di tengah-tengah kerumun cewek-cewek, meski mereka hanya teman biasanya. Dan kecemburuanku itu bagaikan api, selalu membakar hati.
Mengenang masa-masa indah dan fantasi rasa sukaku pada Raka, begini ceritanya. Saat di bangku SD dulu, aku punya sebuah kenangan unik bersamanya yang mungkin tak pernah terjadi pada anak seusia ku saat itu. Pada saat pembagian raport kelas 4 SD, sekolah kami mengadakan acara piknik sekalian membagi raport siswa di sebuah tempat penangkaran buaya. Tempatnya di luar kota. Entah guru-guru kami itu tidak punya rasa kasihan, kami harus ke sana menggunakan truk tanpa pelindung. Dalam perjalanan, tanpa sengaja aku berdiri di samping Raka, tepat di hujung mobil truk. Karena sinar matahari yang menyengat kulit sangat panas, Raka menawarkan untuk berteduh di bawah naungan jaket yang ia pegang. Dan aku tidak akan pernah melewatkan tawaran seperti itu. Jadi aku menurut saja. Karena lagi heboh-hebohnya film Titanic, semua teman-teman yang melihat jadi mengejek kami, bahwa kami seperti “Jack & Rose”,( cuiittTtt,,,, cuitTt,,, ,, ,,, !!) dalam Titanic yang berdiri di hujung kapal. Ejekan itu tidak mempengaruhi obrolan kami yang seru. Setelah itu, aku pun selalu dibuatnya tercengang dengan sikapnya yang baik dan perhatiannya padaku. Tidak biasanya dia berbicara sopan dan penuh perhatian terhadapku. Setelah peristiwa indah itu, hari-hari berikutnya yang ada adalah pertengkaranku dengannya.
Di SMP aku sekelas lagi dengan Raka. Itu berarti, masa aktif penderitaan ku masih diperpanjang selama tiga tahun lagi, karena entah mengapa aku harus duduk sebangku lagi dengan si monster Raka-Raka. Di SMP, aku pura-pura tidak kenal dengan monster itu dan aku selalu jaga jarak dengan dia walaupun kami harus satu kelas lagi.
Pertengkaran kami semasa SD, tampaknya jadi episode berlanjut di SMP. Kami sering bertengkar dengan berbagai sebab dan masalah sepele yang dibesar-besarkan sampai masalah yang tidak penting untuk dibahas. Saat pengumuman kelulusan sekolah sebentar lagi dilakukan, dari teman-teman aku mendapat sebuah berita yang sangat menyenangkan untukku, tentunya untuk masa aktif penderitaanku karena setelah lulus dari SMP nanti, Raka akan melanjutkan pendidikannya di sekolah kejuruan. Itu berarti, saat SMA nanti aku bakal pisah sekolah dengan Raka. “Good bay Raka-Raka” tak sabar aku membayangkan kata-kata itu terucap di bibirku. Aku tersenyum.
Lulus SMP, aku melanjutkan sekolah di SMA 2 Berau. Lagi-lagi aku dikagetkan dengan kehadiran Si Monster Raka-Raka. Ternyata dia juga satu pilihan denganku. Aduh, penderitaan bakal diperpanjang lagi, lagi, dan lagi karena harus satu sekolah dan satu kelas lagi dengan Monster Rakaaaa.
Di SMA ini, permusuhan kami semakin jadi, juga diam-diam rasa sukaku padanya semakin menggila. Dia sering membuat aku menangis. Penyebabnya selalu saja pertengkaran karena sikap dinginnya padaku, atau keegoisanku padanya, juga rasa cemburu yang suka diciptakannya untukku.
Di kelas sebelas dia terpilih menjadi ketua OSIS dan aku dipercayai sebagai sekretarisnya. Berarti, kami harus sering-sering komunikasi. Walaupun kami lagi bertengkar sampai tidak teguran pun kami hadapi secara profesional. Di OSIS memang kami rekan kerja, tapi diluar OSIS kami musuh berat.
Tetapi entah apa yang terjadi antara kami sekarang ini. Kini kami jarang berkelahi lagi dan herannya beberapa waktu ini dia sering sekali memuji diriku. Yang tadinya kami jarang ngobrol sekarang jadi sering cerita walaupun cerita yang tidak penting pun kami bahas. Aliran darah terasa deras dan detak jantungpun juga ikut berdetak kencang karena tatapan matanya yang mengandung arti itu sedang menatapku. Perlahan rasa benci itu pun berubah dengan sendirinya. Rasa yang dulu aku tenggelamkan ke dasar samudra kini muncul di permukaan atas dasar cinta, karena sudah sejak lama rasa sayang itu aku pendam, dan tak ingin aku ungkapkan. Tapi aku juga tak bisa membohongi perasaan dan diri ini.
Sejenak aku terdiam, merenungi apa yang sedang terjadi. Aku rangkai semua peristiwa-peristiwa yang saling terikat dengan tali kebisuan itu lalu aku ikuti jalan kemana arah tali itu berkelok dan kutemui ujungnya, bahwa itu bersumber dari sukma dan berpusat pada C.I.N.T.A. Oh….tuhan, apa ini salah satu triknya buat aku melayang tinggi lalu dengan sekuat-kuatnya dihempaskannya ke bumi, sama seperti yang dilakukan Si Alien Alan padaku dahulu? Apakah kegelisahan ini hanya perasaanku saja? Dan apa yang sebenarnya dia inginkan dariku? Entahlah….
Hingga disuatu sore yang cerah, aku sengaja datang ke tempat pelatihan basket Raka. Aku ke sana dengan penuh harapan, dengan keranjang penuh cintaku padanya. Tapi apa yang aku dapatkan, lagi-lagi Raka selalu membuatku cemburu. Cewek itu memang salah satu target ditempat pelatihannya. Namanya Alina, cewek yang hobi berikat rambut gelung itu baru saja gabung di tempat pelatihan Raka. Entah apa yang menjadikan Raka sangat penasaran dengan Alina. Air mata pun menetes saat melihat dia mulai mengeluarkan jurus pendekatannya dengan cewek itu. Bukan hanya dengan Alina saja dia begitu tapi dengan cewek lain pun dia bertingkah seperti itu. Aku sedih, kenapa harus dia yang ada dihatiku, dan kenapa dia selalu bersikap kasar di hadapanku sedangkan dihadapan cewek-cewek lain dia tampak begitu manis. Dia selalu mengumbar rasa sayangnya dengan cewek lain hingga aku tercengang. Tapi denganku dia selalu bersikap dingin hingga aku seperti terbuang darinya. Dan apa maksudnya, jika aku tidak ada disekitarnya dia mencariku, dan bila aku ada hanya dianggap seperti patung buat pajangan. Bahkan untuk menegur sekali pun tidak ada.
Masih seribu pertanyaan lagi, dan seribu jawaban pula yang belum aku ungkapkan. Di kelas dia mulai lagi membuat aku menangis. Ku rasa dia sangat senang kalau aku sudah menangis. “Sudah. Cukup sudah aku meneteskan air mata selama ini. Aku akan melupakan kamu.” Jeritku di suatu malam. Tapi sesaat aku akan teringat lagi pada perhatiannya, senyumannya, dan tatapan lembutnya padaku. “Aku mohon, Hentikan semua cara yang menyakitkan hatiku ini. Bicaralah padaku Raka, apa maksudmu? Kalau hanya untuk menyakitiku saja, aku mohon dengan rasa kecewa keluar dari kehidupanku. Aku sangka kamu adalah “Mas Malaikat” yang di anugerahkan kepadaku dan bertugas untuk selalu menjaga dalam ketakutanku, yang selalu menuntunku dalam kegalauan hati, dan menjadi sumber kekuatan dimana aku terjatuh dan tak sanggup lagi menahan cobaan yang datangnya hanya menyakitkan hati. Cobalah untuk mengerti aku, Raka.” Desisku dalam hati.
Jawaban itu akhirnya datang. Suatu ketika, di sebuah hari yang indah, saat sekolah lengang, di pojok sekolah Raka telah menungguku. Saat aku datang, dengan lembut dia menatapku. Ah…tatapan yang ku mau, senyuman yang ku mau, dan kata-kata gombal yang ku mau. Raka menembak aku. Aku begitu terlena, seperti yang ku inginkan. Rupanya selama ini dalam hati, Raka diam-diam juga menyukaiku. Aku sangat kesal, mengapa bisa begitu rapi dia menyembunyikan perasaan itu padaku, sedang aku selalu dibuatnya mati cemburu. Akhirnya….kami pacaran. Kini hari-hariku penuh dengan rasa bahagia. Entah di rumah, di sekolah, di mana-mana selalu ada sayap malaikat Raka melekat di punggungku. Raka benar-benar malaikat bagiku.
Kini, setiap aku tiduran di kamar, dan mengingat kenangan masa lalu. Aku pikir, “Bodoh sekali diriku, percaya dan terlena dengan bujuk rayunya Alan. Kenapa tidak dari dulu aku menyadari bahwa Raka lah yang sesungguhnya cinta sejatiku dan yang benar-benar tulus menyayangiku”. Aku tersenyum. Love u, Raka! (eh, salah),, love u, Mas Malaikatku… Dan aku tertidur, berkelana di alam mimpi dengan sayap-sayap malaikat Raka di punggungku.
****

Biodata Penulis :

Nama : Maharti Pakarti Dewi
Alamat : Jl. Marsma Iswahyudi RT. 02 No. 80
Rinding
Tempat/ Tanggal Lahir : Balikpapan, 31 Maret 1994
Sekolah : SMA Negeri 2 Berau
Kelas : XI IPA
E-mail : mahartipakartidewi@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: