TULISAN TERAKHIR

27 Jan

Cerpen ini di tulis oleh Tiara Geminita, Juara ke 5 Lomba Menulis Cerpen 2010

Terik matahari menyinari kota Sanggam siang itu. Panas yang menyelimuti kota, debu-debu yang beterbangan akibat padatnya kendaraan yang berlalu-lalang dan menyebabkan polusi udara meningkat disiang itu. Sebuah truk penuh berisi serdadu-serdadu bermuka keras menderu diatas jalan yang juga dipenuhi kendaraan lainnya. Keringat bercucuran diatas tubuh orang-orang yang sedang sibuk dengan urusan mereka akibat panas disiang itu. Terlihat dua anak perempuan memakai seragam putih abu-abu yang menaiki sepeda motor sendiri-sendiri. Salah seorang dari mereka sedang serius memperhatikan jalan didepan, sedang yang satu memulai pembicaraan.
“Bel, nggak terasa ya, akhirnya Ujian Nasional selesai juga hari ini. Oh ya, kamu mau kuliah dimana bel?” tanya salah seorang dari mereka sambil sibuk melihat kekanan dan kekiri jalan.
“Entahlah Laras, aku juga bingung.” Bela pun menjawab dengan singkat. Laras terdiam dan mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali. Mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing tanpa berbicara lagi.
Bela dan Laras sudah lama berteman. Mereka berteman mulai kelas satu SMA. Dan sekarang mereka sudah kelas tiga dan baru saja selesai mengikuti Ujian Nasional siang itu.
*****

Dirumah yang cukup mewah, dengan mobil Honda Jazz biru yang ada didepannya. Bela menaruh sepeda motornya, tepat disamping mobil tersebut. Ayah yang sedari tadi duduk di sebuah sofa berwarna putih dengan bunga mawar merah di atas meja sofa tersebut, rupanya telah menunggu kedatangan anak tunggalnya pulang dari sekolah.
“Bela.” Ayah memanggil Bela yang sedang berjalan menuju kamarnya.
“Iya ayah, ada apa?”Bela pun menjawab dengan wajah yang tegang.
“Hari ini, Ujian mu sudah selesai. Setelah pengumuman kelulusan nanti, kamu akan melanjutkan kuliahmu di Bandung, dan tentunya fakultas kedokteran. Ibu dan ayah akan mengantarmu kesana.”tanpa basa-basi ayah berbicara pada Bela.
“Iya ayah, terserah ayah saja. Bela akan selalu mengikuti kemauan ayah.”Bela menjawab dengan lembut dan tersenyum. Walaupun sebenarnya dibalik senyumnya itu ia sangat merasa sedih. Bela merupakan anak tunggal dikeluarganya. Sejak kecil Bela senang sekali menulis. Ia selalu mendapat juara saat mengikuti lomba menulis. Namun waktu itu, ayah tahu kalau Bela sering mengikuti lomba menulis, ayahpun merobek semua karya tulis yang dibuat Bela. Ayah tidak ingin setelah lulus SMA, Bela menjadi seorang penulis, ayah ingin Bela menjadi seorang dokter. Sejak saat itu, Bela sudah tidak pernah lagi menulis. Setiap malam iya selalu menangis. Bingung, jika tidak menjadi dokter, ayah akan sangat marah dan kecewa. Belum lagi kalau penyakitnya kambuh. Bisa rumit masalahnya. Ayah terserang penyakit jantung, jadi tidak boleh terlalu ditekan. Tapi, kalau jadi penulis tidak terpenuhi, hidup menjadi tidak berarti dan pasti selalu diselimuti rasa penyesalan.
*****

Pagi itu, embun tebal sekali. Matahari pun belum terlihat dengan sinarya. Walaupun begitu, ayah dan ibu telah duduk siap diruang makan, menunggu putri mereka yang dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya.
“Bu, Bela kok belum keluar kamar? Hari ini kan pengumuman kelulusan, nanti dia bisa telat kalau jam segini belum bangun.”sambil melihat kearah jam, ayah bertanya kepada ibu.
“Mungkin dia lagi mandi yah, sebentar ibu panggil.” Ibu pun bergegas menuju kamar Bela.
Tok,, tok,, tok,, “Bela, bangun sayang, sudah hampir jam 7. Hari ini kamu kan harus kesekolah, ada pengumuman hasil Ujian kan Bel.” Ibu terus memanggil Bela, namun, tak ada jawaban dari kamar Bela. Tak terdengar suara sedikitpun dari kamar Bela. Sunyi senyap seperti tak berpenghuni. Perlahan, ibu pun membuka pintu kamar putri kesayangannya itu. Ketika ibu masuk, tak sadar ibu menginjak darah didekat pintu. Ibu semakin takut dan merasa khawatir, ibu pun meneruskan langkahnya perlahan-lahan mengikuti arah darah yang diinjaknya itu. Setelah beberapa langkah…………………ibu terdiam sejenak, kemudian berteriak. Ayah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ayah bergegas menuju kamar Bela, “Ada apa bu?”
Ibu hanya menangis ketika melihat Bela yang terbaring lemas dengan tangannya yang dipenuhi darah akibat irisan pisau. Ayah pun menangis sambil memeluk Bela anaknya. Diatas meja belajar, ibu menemukan surat yang ditulis oleh Bela.

Hitam, Putih . . . .
Itulah kehidupan… .
Ada pro dan ada kontra….
Ada saatnya kita merasa sedih, dan ada pula saatnya kita merasa senang….
Dan inilah kehidupan Bela,
Ayah dan ibu sangat menginginkan Bela menjadi seorang dokter….
Tapi Bela ingin menjadi seorang penulis, bukan dokter….
Ayah, ibu, kesedihan yang berlarut-larut tidak bisa Bela tahan terus-menerus….
Bela juga tidak sanggup jika harus memenuhi permintaan ayah dan ibu, maafin Bela, Bela bukan anak yang baik untuk ayah dan ibu…
Mungkin, inilah jalan terbaik untuk Bela….
Dan ini juga merupakan TULISAN TERAKHIR Bela, ayah tidak perlu sedih lagi, nggak ada lagi kertas-keertas dengan tinta diatasnya yang tercecer dirumah, Bela pergi untuk selamanya,, selamat tinggal ayah, ibu..
Bela sayang kalian..

Bela

Biodata Penulis :

Nama : Tiara Geminita
Ttl : Tarakan, 25 Mei 1994
Agama : Islam
Asal Sekolah : SMA Negeri 4 Berau
Alamat Sekolah : Jl. Bukit Berbunga, Kec. Sambaliung
Alamat Rumah : Jl. Teuku Umar, Gg. Sawergading
No. telp rumah : (0554) 23717
Mobile : 085252365446
E-mail : tiarageminita@ymail.com

2 Tanggapan to “TULISAN TERAKHIR”

  1. ali sofyan Januari 27, 2011 pada 5:53 pm #

    Aduhhhh,sedihnya…..

    • teaterbumi Januari 28, 2011 pada 11:27 pm #

      wah..jadi mewek jadinya nih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: