The Dark Night

27 Jan

Cerpen ini ditulis oleh Sukmawardini, Juara 4 Lomba Menulis Cerpen 2010

Termenung ku di hadapan cermin, kembali ku lirik jam di dinding. Perasaan ku tak karuan, hati ini seakan di hantam batang duri, kerongkonganku seperti menelan keril, tak biasanya jika ku ingin bertemu Erik hatiku berdegup kencang, ku yakin ini bukan perasaan gembira, tapi mengapa ku tak gembira?
Hari ini adalah hari yang indah, karena dua tahun sebelum hari ini adalah hari saat Erik menyatakan cintanya padaku disekolah, dengan bunga Asoka yang di cabutnya dari halaman sekolah, Erik memang bukan cowok romantis, bahkan terkadang terlihat apa adanya. Dan tepat setahun yang lalu, saat kami merayakan setahun hari jadian kami, ia memberiku kalung bintang, di dalam bintang bergantung cincin emas polos. Yang membuatnya berkesan bukan karena kalung indah yang di berikanya, tapi makna kalung yang ia sampaikan, bahwa cintanya bagaikan bintang, dan cintaku bagaikan bulan yang dilambangkan oleh cincin. Bintanglah yang akan selalu menemani bulan, walau dingin, sepi, dan semua mahluk terlelap dalam lelah, bintang akan tetap bersinar menyempurnakan keindahan dunia dikala gelap bersama bulan. Namun hanya hujan yang bisa membuat bintang takan mampu menemani bulan, dan hujan itu adalah kematian, karena hanya kematian yang mampu memisahkanku dengan Erik.
Tak terasa air mata ku jatuh. Hatiku seakan di remas, aku tak tau apa yang terjadi, terlampau hancur hatiku. Semakin miris, pilu, terguncang. Aku sendiri bingung, sebenarnya apa yang terjadi padaku. Ku genggam kalung yang di beri Erik padaku, kembali kulirik jam di dinding, jarum panjangnya menuding angka 6, sedangkan jarum yang lebih pendek menuduh angka 9. Perasaanku semakin tak karuan, tak terlalu lama, mataku terpejam.
Dalam sayup-sayup embun, Erik menggenggam kedua tanganku, di ciumnya keningku, aku meneteskan air mata, karena di wajahnya tersirat luka pilu yang membuatku tak mampu menahan tangis. Ia memelukku erat, dalam dingin malam, ia mampu menghangatkanku.
“Inilah makna bulan dan bintang di diri kita, kita hanya mampu dipisahkan oleh kematian, tapi ingatlah walau kematian itu datang, cinta masih akan hidup, karena walau tak ada bintang, bulan masih mampu menyinarai dunia, namun tak selamanya bintang pergi, bintang akan kembali untuk bulan”. Desah Erik di telingaku, suaranya pilu, menusuk sukmaku. Sambil terisak, dilepasnya cincin dari kalungku, dan di sisipkannya cincin itu di jari manisku, dengan terengah-engah ia berkata “ Suatu hari nanti, bintang kan kembali bersama bulan”.
Saat ku buka mata, ku rasakan mataku membengkak, teringatku pada mimpi yang baru ku alamai, aku pun kembali hanyut dalam tangis, mimpi yang sangat tak ku harapkan tuk terjadi, mungkin hanya kekecewaan karena Erik tak datang menjemputku untuk merayakan hari jadian kami yang kedua, dan syukurlah itu hanya mimpi. Tapi, sekolah takan mungkin libur hanya karena kelalaian Erik. Seusai mandi, kulihat pantulan diriku di cermin. Aku tersentak, dimana cincin dalam bintang dikalungku? Detak jantungku seolah berkejaran dengan desiran darah yang mengalir dalam tubuhku, saat ku sadari ternyata cincin itu telah bertandang dijari manisku. Tak ingin ambil pusing, segera kubergegas kesekolah, tak sabar mendengar penjelasan Erik.
Digerbang sekolah anak-anak sekolahku berkerumunan, kudekati dengan degup jantung yang entah mengapa semakin cepat, ketika ku sampai, semua orang memandangku heran, dan aku pun tak kalah heran pulansaat kulihat mobil Erik melintang bahkan ban depanya nyaris jatuh

ke selokan. Pintu dibagian pengemudinya terbuka, didalamnya duduk manis boneka Poh warna putih berlumuran darah. Aku tersentak, lututku lemas membuatku jatuh ke aspal, air mataku jatuh tak tertahan, membayangkan apa yang terjadi pada Erik. Dalam kepedihan hatiku, Bu Dessy guru BP di sekolah, memanggilku.
“Ini sepatu kamu?” di tunjukanya padaku sepatu berpita putih yang telah berlumuran darah.
“Bu…bukan Bu”. Jawabku masih terisak, merasa tak percaya, dipakaikannya padaku, dan ternyata kekecilan.
“Sedari tadi malam Erik menghilang”. Hanya kata-kata itu yang masih terngiang dalam kepalaku. Kembali ku menghubungi ponsel Erik, tetap saja tak ada jawaban, aku kalut, bingung, dibenakku penuh dengan tanda tanya, berjam-jam ku habiskan waktu, hanya untuk mencari tahu dimana Erik berada, tapi tak ada seorangpun yang tahu.
Seusai mandi, kulihat wajahku yang kelelahan di cermin, kembali ku tersentak kaget, menyadari kalung bintangku tak lagi tertandang di leherku, ku cari di setiap sudut rumahku. Tak ku dapati jua, ku putar waktu dalam benakku, mencari tahu kemungkinan tempat kalungku jatuh, dalam benaku, kusadari kalungku jatuh saat ku bangun dari dudukku di tempat Bu Dessy. Kulihat jam di dinding membentangkan angka 8 malam tepat. Tanpa pikir panjang bergegas ku kesekolah, mencari bintangku, cinta Erik.
Dalam gelap malam yang sunyi, ku susuri terowongan gelap, terowongan yang setiap hari kulewati bersama Erik. Tanpa Erik, terowongan ini sunyi dan suram, kembali ku ingat, bagai bulan, sendiri menyinari dunia, tanpa bintang. Jantungku kembali berkejaran dengan desir darahku, saat ku buka pintu ruangan Bu Dessy, kulihat sesosok pria yang tak asing lagi dimataku, aku kaget ngeri, seakan ragu.
“Pergi Vol” bentakya mengagetkanku. Dialah yang selama ini ku cari. Dialah yang membuat degup jantugku semakin tak karuan. Di tatapnya mataku. Kulihat di lehernya tergantung manis kalungku. Aku tersenyum dalam air mataku yang semakin tak tertahan.
“Kamu kemana aja Rik? Semua orang khawatir” desahku sambil berdiri kaku, Erik mendekatiku, bulu kuduku berdiri, udara dingin membuatku takut.
“Kamu nggak akan bisa hidup sama aku Vol” bentaknya sambil menangis. “Kita udah pisah !” sambungnya sambil terisak.
“Bukanya cuma kematian yang bisa misahin kita? Mana janji kamu Erik ?” bentaku sakit hati.
“Kamu nggak akan pernah ngerti apa yang terjadi Vol”. Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik, suasana semakin mencekam, ia menarik Erik pergi menjauhiku. Inikah alasan Erik menghilang? Dua tahun sia-sia. Kekecewaan membelunggu. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya.
“Kamu tuh bener-bener nggak punya perasaan Rik, kamu nggak tahu gimana sakitnya perasaanku, cinta bulan dan bintang itu cuma bualan kamu aja. Aku kecewa!” teriaku menggelegar.
“ Terserah Vol ! Pergi ! Kamu nggak akan pernah percaya sama aku, bukan cuma kamu yang kecwa, aku juga kecewa, aku kecewa, aku kecewa Evol, mungkin ini terakhir kalinya aku nyebut nama kamu, Evol bulanku !” aku hanya terduduk lemas mendengar teriaknya.
Malam demi malam berlalu, hanya sepi yang melandaku, tak ada lagi bintang yang menemani bulan, karena hari hujan. Dimana bintang saat hujan turun? Mengapa ia tak menemani bulan? Betapa setianya bulan, selalu menunggu kehadiran bintang, walau hujan melanda dunia. Tapi mengapa bintang tetap pergi dan tak menghiraukan bulan. Tak taukah bintang jika bulan merindukanya, rindu yang memuncak, walau bintang mencampakan bulan. Arkh !!! Hati ini semakin tak tahan. Aku gusar. Entah mengapa, aku ingin sekali kesekolah, sekolahlah tempat paling berkesan ketika ku bersama Erik. Tanpa pikir panjang, hujan kuterobos tuk kesekolah, aku tak tahu mengapa ku ingin kesekolah. Seperti ada sesuatu yang harus ku ketahui.
Masuk kegerbang sekolah, bulu kuduk ku berdiri, dingin kembali mencekam, suara rintikan hujan menyamarkan desiran langkahku. Aku duduk di bangku yang pernah kududuki bersama Erik. Aku teringat lagu Avril Lavigne berjudul im with you yang pernah hadir, saat kami mendiskusikan bulan dan bintang, dan sekarang terjadi pada ku.
Samar-samar kudengar percakapan
“Aku dan Evol nggak akan pernah lagi bisa kaya dulu, walau bagaimanapun kami berada di alam yang berbeda.” Suara lelaki itu terisak.
“Cinta pasti masih bisa menyatukan kalian” desah suara wanita menanggapi suara Erik.
“Aku yakin dia juga pasti masih cinta kayak apa yang kualami sekarang, perasaan ini perih Ra, gimana aku bisa ngasih tahu Evol, atau palinga nggak, gimana caranya agar aku bisa kembali jadi manusia?”
“Yang aku tahu, kita nggak akan mungkin jadi maniusia lagi, kalau jimat pembungkus raga kita belum terbuka, cuma darah Jems yang bisa membuka jimat itu, tapi kalau di antara kita ada yang membunuh, kita nggak akan jadi manusia walau jimat itu telah dibuka, kita pasti akan tersedot keneraka”.
“Aku nggak peduli, aku sakit lihat Evol sakit, setiap malam dia nangis, cuma malam aku bisa lihat dia, aku pengen dia tahu kalau aku bukan manusia lagi, aku pengen jelasin kedia, aku mati karena berusaha nolong kamu saat Jems ingin memperkosamu. Tapi semuanya terlalu mengada-ada, Evol bisa semakin bingung. Percuma jelasin ini semua. Cuma kematian yang bisa misahin kami, dan kematian itu datang, kami harus beripsah”
“Enggak !!!” Teriakku sambil membuka pintu. “Kalian bohong, kalian penipu, kalian sengaja jebak aku, supaya aku dengerin ocehan murahan kaliankan? Aku nggak sebodoh itu Rik! kamu nggak usah gila. Kalau kamu pengen ninggalin aku, nggak perlu kamu ngarang cerita imajinasi tingkat tinggi nggak masuk akal kayak gini. Bulan masih bisa bersinar walau bintang pergi”. Erik berlari menghampiriku. Dihadapanku ia menangis. Sambil tersenyum ia mencoba menggenggam tanganku, tersentak ku menyadari tubuhku dapat di tembus olehnya, hanya rasa dingin saat ia menempelkan tanganya di tubuhku. Aku jatuh, lututku lemas, aku bingung, ku coba memukul kaki Erik, tanganku menembus kakinya. Aku menangis. Menyadari kejujuran Erik. Selama ini aku yang tak percaya padanya, aku yang tak bisa menerima keadaan. Aku yang bersalah atas sakit hatiku sendiri.
Seminggu kemudian, aku melihat Jems masuk keruangan Bu Dessy, ternyata Jems adalah putra Bu Dessy, ia meletakan HP dan kamera digital di atas meja Bu Dessy. Aku masuk untuk bertanya beberapa tugas. Saat ku keluar, sengaja ku menabrak Jems dan menjatuhkan kameranya tanpa sepengetahuanya. Saat dia pergi, aku menyembunyikan kameranya disudut ruangan Bu Dessy yang tak mungkin dapat di temukanya. Saat seisi sekolah pulang aku tetap menunggu, hingga jam 5 sore lewat, ia baru datang, mungkin untuk mencari kameranya yang terjatuh.
Aku harus menuggu empat puluh lima menit lagi untuk membunuh Jems, saat mentari terbenam, agar Erik dan Laura bisa membawaku ketempat dimana Jems menyembunyikan jasad Erik dan Laura. Aku tau ini adalah hal yang mustahil bisa dilakukan gadis lemah sepertiku. Aku hanya ingin Erik bisa memelukku lagi, aku ingin Erik bisa hidup bersamaku lagi, aku ingin menemukan bintang yang hilang dikala hujan.
Lama ku perhatikan gerak gerik Jems, tak ku sangka kurang dari empat puluh lima menit, Jems menemukan kameranya. Aku pun keluar dari persembunyian, menyusun rencana B dengan segera, ya , aku tau apa yang harus kulakukan, aku harus mengulur waktu.
Akupun menghampiri Jems. Bercengkrama mengobrol tak jelas. Dimata Jems, aku seperti wanita murahan, menghampirinya dikala matahari terbenam hanya untuk bertnaya hal-hal yang tak penting. Di pandangnya tubuhku lama, perasanku jijik terhadap pandanganya, Jems adalah anak kuliahan yang berotak kotor, ia mendekatiku tanpa berpikir apa yang mungkin bisa ku perbuat untuk melindugi diriku. Matahari mulai terbenam, dimana Erik dan Laura?
Perlakuan Jems semakin kurang ajar. Hari sudah semakin gelap. Merasa tak tahan aku berlari sambil terus berteriak tolong, namun tiba-tiba badanku terhempas, Jems memandangku dengan keinginan kotornya. Ia berdiri di hadapanku, jongkok sambil mencoba menciumku, aku semakin tak berdaya, tak tau harus berbuat apa, namun tiba-tiba Jems mengeluarkan darah dari mulutnya, lalu jatuh di sisi kiriku. Dan akupun tersentak sangat kecewa, ketika kulihat di belakang Jems Erik mencabut pisau yang tertancap di badan Jems, dan disebelahnya Laura terbelalak melihat Erik seakan tak percaya.
Aku berlari pulang. Tak kuat ku menyadari keadaan yang terjadi. Erik takan lagi menjadi manusia karena membunuh Jems. Aku hampir gila saat menyadari, bahwa bulan kini benar-benar harus sendiri.
Di dalam kamar aku terisak, inikah akhir cinta kami? Inikan akhir bulan dan bintang? Kejamnya hujan memisahkan kami. Hujan yang takan mampu kami hindari. Aku ingat bagai mana Erik menyatakan cintanya, bagaimana Erik memasang kalung bintang, bagaimana Erik memisahkan kalung bintang dan cincin. Erik jahat.
Bel rumahku mengagetkanku, akupun turun bergegas tuk memastikan, apakah masih ada keajaiban yang kan menghampriku, saat ku buka pintu, tak satupun sesosok orang kudapati, kulihat dikeset bertenger sepucuk kartu ucapan yang bertuliskan
Dear Bulan
Tahukah kau bahwa hujanpun takan mampu memisahkan bulan dan bintang.
Karena saat hujan turun bintang tak hilang, melainkan memayungi bulan dengan awan, agar bulan kan selalu bersinar, menerangi dunia, dan dunia takan gelap dikala malam hujan.
Aku menangis, merasa ini tak ada gunaya. Namun, tiba-tiba Erik memelukku dari belakang. “Aku cinta kamu Beb”. Aku tersentak, kucubiti pipinya. Benar Erik, dan mampu ku indra.
“ Kok bisa?” tanyaku ingin tahu.
“Laura yang membunuh Jems, ia berkorban, karena aku pernah berkorban tuk menolongnya. Berterimakasihlah pada Laura. Dialah awan yang membuataku tetap berarti walau hujan turun”.
Dibawanya boneka Poh lucu, saat ia memandangku, ia mencabut cincin dijariku, dan memasangkanya pada bintang, lalu di pasangkan padaku.
“Jangan sampai jatuh lagi ya Sayang”
TAMAT

Biodata Penulis :

Nama : Sukmawardini Andara
Alamat : Jalan Marsma Iswahyudi, Gang Poksai, RT X, Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur.
Tempat, Tanggal lahir : Tanjung Selor, 27 Oktober 1993
Asal Sekolah : SMA Negeri 2 Berau, Kelas XII IPA1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: