Kelamin dan Saya

4 Des

Belum banyak yang tahu, mungkin juga anda, jika hampir setahun ini saya menyimpan kelamin saya di dalam lemari es. Tentu saja setelah saya bungkus rapat-rapat. Diletakkan dalam freezer bersebelahan dengan empat bungkus biskuit coklat sisa minggu lalu. Mungkin anda juga terheran-heran, apa perlunya saya berbuat begitu. Kenapa kelamin saya tak lagi berada di tempat yang semestinya. Oh ya, sebelum anda menduga-duga lebih jauh, saya jelaskan pada anda bahwa saya adalah seorang laki-laki di usia pertengahan tiga puluh. Normal, baik secara fisik dan psikis. Meski saya akui banyak orang menyangsikan itu. Karena itulah saat ini saya bercerita pada anda tentang diri saya dan kelamin yang saya simpan dalam lemari es.

Awalnya sederhana saja. Setahun lalu itu-tunangan saya, Hera-memutuskan mengakhiri hubungan kasih kami secara sepihak. Dia telah menemukan pasangan yang lebih cocok untuk pendamping hidupnya, lalu beberapa minggu kemudian mereka menikah. Ini ulah takdir, katanya. Mau apa lagi, Tuhan pun harus mengalah jika sudah begini. Apalagi saya. Anda pasti tak kan tertarik pada kisah patah hati seperti ini. Terlalu sering terjadi dan membosankan. Saya sendiri pun bosan. Makanya saya tak perlu bercerita tentang rasa itu atau kepedihan yang saya hadapi. Namun ada yang menarik setelah kejadian itu. Anda mungkin tak percaya, tapi suatu hal telah terjadi pada kelamin saya. Lebih jelasnya, saya akan ceritakan apa yang terjadi di suatu malam selepas keputusan Hera yang sepihak itu.

Saya ingat saat itu belum terlalu larut. Suara televisi masih terdengar dari ruang tengah. Sementara di dalam kamar, saya terkaget-kaget dengan kelamin saya yang berbicara. Bayangkan! Kelamin yang berbicara.“Hei, sobat! Lihatlah aku!” begitu kira-kira dia menyapa. “Aku kelaminmu. Tak perlu tengok kanan kiri, aku ada di dalam celanamu. Bukalah!”

Saya turuti kemauannya saat itu. Saya pelorotkan celana saya hingga lutut. Keheranan saya berubah menjadi rasa iba. Baru saya sadari ternyata kelamin saya begitu pucat, sendu dan tak memiliki gairah. Padahal kemarin-kemarin dia tampak sehat dan lincah. Kenapa bisa begini?

“Kamu sakit?” spontan saya tanya.

“Mungkin. Sebab ada saat-saat dimana kondisi dan waktu bisa memengaruhi kesehatanku.”

“Dan itu terjadi sekarang? Kenapa?”

“Karena momennya mendukung. Seperti dirimu yang kecewa, aku pun kini tak lagi memiliki jiwa. Kamu pasti tahu.”

Saya tahu. Anda pun pasti tahu. Pengaruh hubungan yang kandas itu berdampak pada kami berdua.

“Apakah kau akan sembuh?”

“Entahlah…”

“Kau akan sembuh!” jawab saya memastikan.

Demi berharap melihat kelamin saya kembali sehat dan bergairah, saya mengambil tindakan yang menurut saya adalah jawabannya. Anda tahu apa yang saya lakukan setelah malam itu? Saya bawa kelamin saya ke tukang urut esok harinya. Juru urutnya tentu saja perempuan, tua memang. Saya persilakan kelamin saya diamati dan diurut sana sini. Tapi kelamin saya tak bereaksi. Dia tetap lesu. Saya sudahi saja prosesi pemijatan itu. Tanpa hasil.

“Ada apa dengan kau?” aku memakinya di suatu pagi. “Apakah ini karena Hera atau kau hanya butuh kelamin perempuan?”

Saya tak marah benar, jika itu sangkaan anda. Saya hanya kesal saja. Hampir sebulan sejak perpisahan itu, saya merasa sudah bisa hidup normal. Pikiran-pikiran saya tak lagi terfokus pada Hera. Saya telah menjadi manusia yang bebas, tapi kelamin saya tidak. Dia tetap kuyu dan pucat. Saya yakin, anda pun akan bersikap sama dengan saya. Kesal. Tapi tak banyak yang bisa saya buat, apalagi kemudian kelamin saya tak lagi mau diajak bicara. Berkali-kali saya paksakan, tapi tak terucap satu kata pun. Bahkan ketika sampai saya maki-maki seperti tadi.

Sebenarnya saya tak ingin menceritakan bagian ini. Karena ini sungguh memalukan dan tak sopan. Namun ini adalah bagian yang penting. Setelah iba dan kesabaran saya hilang pada kelamin saya itu, saya bawa dia ke tempat prostitusi. Konyolkah menurut anda? Awalnya saya pun berpikir begitu. Tapi pada saat itu saya merasa tak perlu lagi menafikkan cara, bahkan yang ekstrim sekalipun. Semuanya saya lakukan agar kelamin saya kembali normal.

Di tempat prostitusi itu saya kenalkan kelamin saya pada seorang pelacur, juga pada kelamin miliknya. Anda tahu? Betapa malunya saya saat itu, karena tiba-tiba saja kelamin saya seperti kembali hidup. Ceria dan bergairah. Dia bercanda dan tertawa-tawa dengan kelamin sang pelacur. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, meski sebagian rasa saya ikut bersyukur lega. Sangkaan saya benar. Ternyata kelamin saya sehat-sehat saja. Saya biarkan kelamin saya bersenang-senang hingga nyaris waktu subuh.

“Ajak aku lagi ke sana!” itu ucapan kelamin saya. Entah kenapa kondisinya jadi terbalik. Sejak kunjungan dari tempat prostitusi itu, justru kelamin sayalah yang lebih bersemangat. Seperti mayat yang diberi kesempatan hidup kedua, atau perumpamaan lain yang mungkin bisa anda pikirkan. Serupa itulah kelamin saya saat itu. Padahal bagi saya treatment untuknya telah usai saat gairahnya kembali hidup lewat kelamin pelacur kemarin.

“Jangan berpura-pura! Kau pasti juga ikut senang jika aku senang,” begitu katanya.

“Hei, berhati-hatilah berucap. Akulah yang menentukan kapan aku ingin bersenang-senang, bukan kau!”

“Oh, ya? Apakah kau bisa bersenang-senang jika aku tak ikut senang? Saat aku murung justru kau yang kebingungan.” Kelamin saya terkekeh. Keterlaluan bukan? Disinilah awal mula kelamin saya bersikap nyeleneh. Memberontak.

Seakan ingin membuktikan pernyatannya, dia mulai beraksi melawan. Ketika saya ingin bersenang-senang, justru dia terpulas. Mati-matian saya membangunkan dia dengan segala bantuan dan cara. Dia tetap tak bergeming. Menyembunyikan jiwanya entah di mana. Sebaliknya, saat dia yang menginginkannya semua harus terlaksana. Saya pernah diseret-seretnya ke pinggir jalan di malam hari menemui wanita penjaja saat saya tengah tertidur nyenyak. Saya ikut bersenang-senang dengan terpaksa. Itu kerap terjadi tak mengingat waktu, kondisi dan tempat. Bayangkan! Pernah suatu ketika saat tengah rapat dengan kepala HRD yang memakai rok mini, dia memaksa saya separuh mengancam agar menelpon Aristi si tukang pijat panggilan yang pernah kami pakai jasanya sekali waktu. Memalukan sekali! Ah, kisah yang seperti ini pun sesungguhnya tak ingin saya ceritakan pada anda. Tapi ini juga termasuk bagian yang harus anda ketahui.

Tiga bulan sejak kebangkitan kembali gairah kemaluan saya, saya akhirnya berani mengambil keputusan. Dia harus dipisahkan dari kehidupan saya. Dia tak boleh lagi mengatur kesenangan saya. Juga kehidupan saya pada akhirnya. Cukup sudah! Saya menolak terus dipermalukannya. Tahukah yang saya lakukan? Ya, betul! Anda sudah bisa menebaknya. Saya akhirnya memotong kelamin saya saat dia tertidur. Blas! Darah terciprat kemana-mana, di tubuhnya dan selangkangan saya. Dia kaget bukan main. Saya acuhkan teriakan dan sumpah serapahnya. Entah berapa botol betadyn dan alkohol saya banjurkan pada selangkangan saya dan tubuhnya. Jangan ditanya perihnya. Tapi rasa puas dan kemenangan saya atasnya seperti membuat luka itu menjadi baal. Kelamin saya yang marah, kecewa dan kesal itu saya masukkan ke dalam kantong plastik, dan anda tahu dimana dirinya berada kini. Dalam freezer lemari es saya.

Begitulah kisahnya. Saya harap anda tak menganggap saya kejam atau gila. Saya pun tak menginginkan anda mengalami kisah seperti saya untuk mengerti dan memaklumi apa yang saya lakukan. Semua demi kebaikan. Toh, saya berencana untuk menyambungkannya kembali tepat di selangkangan saya jika suatu saat saya menikah.

Writer : Ramdhani Nur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: