Sepatu – Buku

16 Nov

Ah. Ini sudah betul-benar gila. Aku memimpikan hadiah ulang tahun. Aku? Anak tukang pasang kancing? Benar teman, aku sekarang sinting.

Begini mulanya.Abangku yang tamatan SMP itu bekerja di pasar dekat stasiun kota. Kerjanya sungguh mulia. Menyediakan buku-buku bekas dan buku-buku bajakan berharga murah yang tak menguras kantong. Kehadiran lapaknya senantiasa menjadi incaran anak-anak sekolah semacamku–tak punya uang–sehingga abangku masuk golongan malaikat di pikiran mereka.

Tiap tahun ajaran baru, abangku akan dirubung anak sekolah yang mencari peruntungan. Siapa tahu dapat buku layak pakai, bekas tapi masih mulus. Itu pun kalau guru mereka tidak mengkhususkan penerbit tertentu atau penulis tertentu sebagai buku pegangan wajibnya.

Dan aku, si anak dengan tampang biasa-biasa saja, kemampuan otak terbatas dan ketrampilan tak memadai suka sekali duduk-duduk di lapak abangku. Pulang sekolah aku ke sini, numpang baca buku gratis sembari menemani abangku yang mati bosan ketika sepi pelangganKanan-kiri menyeruakkan beragam aroma dan kebisingan. Ada tukang gorengan, tukang jahit denim, tukang sol sepatu, tukang sate, tukang jajan pasar–papais, gegetuk, ketimus–tukang cilung dan segala tukang-tukangan lainnya. Perut keroncingan namun kutahan, kucoba alihkan dengan kelaparan akan buku-buku. Satu obsesiku : punya buku milik sendiri!

Kuputuskan ini jadi obsesi maha spesial untuk ulang tahunku, ketujuh belas, bulan depan.

“Apa? Buku baru? Yang masih berkilat tersampul plastik itu? Yang ada di toko buku di mall-mall itu? Yang kertasnya kinclong dan hurufnya tidak kabur itu?” abangku mendelik tak percaya. “Benar sekali bang. Kalau aku baca di lapakmu, suatu waktu buku itu terjual lalu aku tak bisa membacanya lagi. Setidaknya, buku baru punya sampul plastik licin dan melindungi bukuku dari jamahan tangan pembeli. Tak seperti pasar, lama-lama buku itu akan kotor atau lecek juga. Aku ingin buku yang kertasnya indah, hurufnya tidak seperti fotokopian, gambarnya terang. Nah, pasti jadi hadiah ulang tahun berkesan.”

“Jangan mimpi kamu! Bapakmu itu cuma tukang pasang kancing! Ibumu tukang cuci! Mimpi macam apa, buang-buang duit demi buku baru! Tidak-tidak, buku bekas saja!”

“Tapi bang, masakkan cuma sekali saja aku mau buku milikku sendiri. Kan bukan hal aneh. Toh paling,” aku mengerjap-ngerjapkan mata, “seharga keuntungan abang selama sebulan, disisihkan sedikit.”

“Makan apa bapak sama ibu? Sekolahmu dibayar pakai daun?” Wajah abang nampak terusik dengan pemikiranku.

Aku harus tetap punya buku!

Sore ini aku main ke rumah seorang temanku, Pita. “Wah, wah, ada temannya Pita,” sapa ibunya ramah. “Selamat siang, tante!” aku mencium tangannya. Ia memperhatikanku. Membuat rikuh. “Sudah makan? Ayo makan dulu di dalam. Tante baru masak lho!” Pita menyenggolku sambil tersenyum. Dia pernah bercerita tentang kehebatan masak ibunya. “Oh ya, Pita, nanti ajak temanmu duduk-duduk di belakang saja. Kalau mau pinjam buku, tunjukkan koleksi kita ya. Temannya Pita ini suka baca buku?”

Aku mengangguk takzim.

“Nah, bawa pulang juga bisa. Sekarang kita masuk dan makan siang ya!” Pulangnya aku membawa setumpuk buku, seperti idamanku, licin dan bagus. “Dapat dari mana buku-buku itu?” tanya abangku di ambang pintu. Tatapannya menusuk seakan tak sabar mencincangku. “Kata bapak kamu janji menolong bapak. Hari ini bapak kebanjiran order pasang kancing. Masuk sana!” Kutekuk wajah, beringsut ke kamar dengan wajah kesal.

***

Hari ulang tahun. Aku mondar-mandir depan cermin, tak beranjak berangkat sekolah. Siapa ya yang akan mengabulkan keinginanku punya buku sendiri? Buku bacaan seperti punya Pita? Atau yang kulihat–tepatnya kuintip–dari etalase mall-mall yang kudatangi untuk menemani teman-temanku menghabiskan uang saku mereka?

Kutengok laci lemari. Ada yang salah. Lacinya setengah terbuka. Apa itu di dalamnya? Kutahan napas. Sebuah benda berbentuk agak kotak, disampul kertas coklat. Kurobek.

“Nak, ibu tahu sepatumu sudah banyak lubangnya. Ibu bersyukur, tahun ini bisa memberimu sepatu baru. Tabungan ibu sejak kamu kelas satu. Ibu yakin suatu saat kamu akan membutuhkan uang yang ibu sisihkan. Kebutuhan paling mendesak. Jadi ibu sengaja membelikan sepatu. Selamat ulang tahun!”

Kutatap sepatuku yang bolong. Jika hujan, lumpu merembes masuk dan mengotori kaus kakiku yang kendor. Aku memakai sepatu baruku.

Azall

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: