Menggaruk Dinding

1 Nov


Laki-laki itu merapatkan telinganya pada dinding. Tembok dingin itu nampaknya mengeluarkan suara. Walaupun samar, ia menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu di balik dinding kamar kontrakannya itu. Dia semakin merapatkan telinganya pada dinding.

“Itu suara gemerincing apa ya?” batinnya.

Kemudian dia memindai seluruh ruangan, mencari apa saja yang dapat membantunya untuk mengeluarkan apapun yang ada di balik tembok dingin bercat putih itu.

“Ah, ketemu!” katanya sambil menghampiri sesuatu di atas meja di pojok kamar.

Rupanya itu sendok makan logam yang biasa digunakannya untuk makan nasi bungkus. Dengan bersemangat, dia mengacung-acungakan sendok makan itu dan mulai menggaruk dinding. Lama dia menggaruk, keringatnya mulai bercucuran, mengalir dari atas dahi hingga ujung kaki. Sesekali dia berhenti menggaruk dan kembali menempelkan telinganya pada dinding, kalau-kalau suara itu hilang dan pekerjaan menggaruknya menjadi sia-sia. Tetapi, suara gemerincing itu semakin keras memukul gendang telinganya. Dia semakin yakin kalau ada sesuatu di balik dinding.

Dia menyeka keringatnya dan melihat dengan puas hasil pekerjaannya. Sudah ada lubang kecil pada dinding, terlihat merah bata dan abu-abu semen. Tetapi, lubang itu belum terbuka seluruhnya, benda gemerincing itu juga belum muncul, jadi dia belum selesai.Untuk mengganti peluh yang terbuang dari tubuhnya, dia menenggak air dari teko yang ada di atas meja yang sama dengan tempat diletakkannya sendok logam itu. Kembali dia memandangi lubang pada dinding kamarnya. Dia hampir tak peduli kalau itu bukan kamarnya sendiri. Dia hanya peduli dengan suara gemerincing di balik temboknya. Menurutnya, jika ibu galak pemilik kontrakan melihat tembok kamar kontrakannya yang berlubang, itu urusan belakangan, asal benda gemerincing itu bisa ditemukan.

Makin lama dia menggaruk, makin keras suara gemerincing itu. Begitulah, makin semangat pula dia menggerakkan sendoknya menggerus semen dan batu bata. Mungkin awalnya sulit untuk menggerus tembok bata, tetapi kini makin mudah karena batu bata itu sudah mulai lapuk.

Akhirnya, sungguh tak dapat dipercaya, sesuatu terjatuh bergemerincing menuju lantai dari dalam lubang. Matanya buas mencari benda bergemerincing itu dan jantungnya berdebar-debar saat dia menyentuh benda itu. Sesuatu itu sungguh berkilauan dan menyilaukan. Dia mengamati benda itu dengan cermat dan akhirnya berkesimpulan, itu adalah sekeping koin emas!

Dia begitu girang sambil menimang koin emasnya. Itulah tiketnya untuk meninggalkan kemiskinan selama-lamanya. Dia menciumi koin emasnya dan kemudian kembali menatap lubang pada tembok bata lapuk itu. Pasti masih banyak benda seperti ini dibalik tembok itu, begitu pikirnya. Begitulah, akhirnya dia kembali menggaruk tembok dengan sendoknya, dan seperti perkiraannya, makin banyak koin emas bergemerincing jatuh di lantai.

***

“Dia pasien baru ya?” tanya seorang dokter wanita berjas putih pada perawat di depannya. Perawat itu hanya menjawab ya dengan singkat dan memberikan map berisi keterangan pasien dan kertas-kertas penting lainnya. Pada map itu dan semua kertas tertera tulisan ‘Rumah Sakit Jiwa Bakti Negeri’.

Dokter itu membuka map yang dipegangnya dan mempelajari keadaan orang yang berada di hadapannya. Sesekali dia mendongakkan kepalanya untuk mencocokkan keadaan pasien dengan hasil analisa pada kertas. Kemudian dokter itu memandang dingin pada pasien di depannya yang sedang menggaruk dinding dengan sendok karatan sambil sesekali menempelkan telinganya pada tembok yang dingin. Sang dokter hanya menghela nafas dan menutup mapnya, menyesalkan penderitaan hidup yang dihadapi pasien di depannya, kemudian berlalu meninggalkan pasien baru itu dengan sendok karatannya.

***

Dia pulang dari bekerja, kelelahan dan perut keroncongan, menuju kamar kontrakannya yang sempit, pengap dan bau. Setiap hari, setiap kali dia pulang dari bekerja di pabrik, selalu begitu keadaannya. Kelelahan dan perut keroncongan. Tetapi, gajinya tak pernah naik. Sebaliknya, harga kebutuhan pokok terus naik. Dia semakin tercekik, semakin putus asa.

Laki-laki itu merebahkan diri di atas kasur, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan putus asa. Dia mencoba memejamkan matanya, mencoba melupakan seluruh masalah ekonomi yang menghimpit dirinya. Saat itulah, samar-samar dia mendengar sesuatu dari balik tembok. Sesuatu yang bergemerincing. Sesuatu yang menggiurkan. Kemudian, dia merapatkan telinganya pada dinding.

Writer : Mirsya Mulyani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: