Nano Riantiarno – Teater Adalah Tontonan Yang Sempurna

19 Okt

Norbertus Riantiarno (lahir di Cirebon, 6 Juni 1949), atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma. Dia juga adalah suami dari aktris dan sekaligus pemain teater Ratna Riantiarno.

Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Sebuah peran kecil sebagai seorang penjaga di atas panggung dan sebuah peran lain yang menggantikan pemeran utama di pementasan Caligula menguatkan niatnya untuk terjun ke dalam dunia teater.

Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) di Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta.
Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia, dan ikut mendirikan Teater Populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, diakui sebagai salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini.

Hingga 2008 kelompok ini telah menggelar sekitar 116 produksi panggung dan televisi. Nano menulis sebagian besar karya panggungnya,

Alumnus International Writing Program, Iowa University, Iowa, USA, 1978, ia menyabet banyak penghargaan untuk teater, film-teve dan sastra dan ikut mendirikan majalah Zaman dan Matra, di mana ia bekerja sebagai redaktur kemudian pemimpin redaksi (1979-2001).

Kini, pimpinan dan sutradara Teater Koma yang mendapatkan penghargaan FTI Award sebagai “Tokoh Teater Indonesia 2008” oleh Federasi Teater Indonesia menggunakan waktunya hanya untuk dunia teater dan menulis.

Berikut ini cuplikan dari bincang-bincang Garuda Magazine dengan Nano beberapa waktu lalu di rumahnya yang asri dan sekaligus tempat berlatih teater. Arti nama dari Teater Koma?
Koma adalah sebuah metafora yang mengartikan ‘gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tiada henti, tak mengenal titik’.

Teater Koma tetap eksis dan pertunjukkannya selalu dipadati oleh penonton. Apa kiatnya?
Teater Koma adalah kelompok teater independen yang bersifat non-profit (nirlaba). Anggotanya tak hidup dari penghasilan kelompok, tak mengandalkan perolehan dari pergelaran. Sebagian besar memiliki pekerjaan lain di luar kelompok.

Teater Koma adalah sebuah paguyuban kesenian, bukan perusahaan. Kegiatannya tetap bersifat amatir, dalam pengertian para anggotanya tak memperoleh hasil dari pekerjaannya sebagai penopang utama biaya hidup sehari-hari. Mereka mensubsidi sendiri kegiatannya, sebuah ‘hobi serius’ yang dilakoni secara dedikatif, ikhlas dan gembira.

Kami menggunakan manajemen terbuka. Setiap kali merancang produksi, modal awal kadang dirogoh dari kantong pribadi, ‘bantingan’ atau ditanggung bersama. Begitu juga dengan perolehan setelah pergelaran, yang saya sendiri menyebutnya sebagai permen yang didapat setelah dipotong biaya produksi kemudian dibagi secara adil dengan semua yang terlibat dalam pergelaran tersebut. Tak jarang pemain membagikan kembali permen mereka dengan pemain-pemain lain.

Kepuasan apa yang Anda dapatkan?
Pentas-pentas Teater Koma agaknya kena di hati masyarakat, mengikat kalbu sehingga mereka rela jadi penonton setia.

Menurut sebuah survei, penonton Teater Koma yang setia menonton berjumlah sekitar 50% dari seluruh jumlah penonton. Ternyata telah terjadi regenerasi pula di kalangan penonton. Tiga generasi, kakek, anak dan cucu, sering menonton bersama. Hal ini sangat mengharukan dan tentu saja menggembirakan saya. Inilah kepuasan dan penghargaan yang saya dapatkan sesungguhnya.

Saya selalu hadir dalam setiap pergelaran Teater Koma; saya menyalami dan bertemu langsung dengan penonton-penonton setia yang hadir di setiap pergelaran. Ini sebuah fenomena. Saya selalu merasa berhutang kepada penonton untuk terus menggelar pentas Teater Koma minimal satu kali dalam setahun.

Perkembangan dunia teater di tanah air saat ini?
Dunia teater di Indonesia sangat tidak menjanjikan. Dukungan pemerintah masih kurang dalam pengembangan kesenian, terutama seni pertunjukan modern, sedangkan panggung teater harus tetap diisi dan hidup.

Apa yang menurut Anda adalah sebuah tontonan yang sempurna?
Bagi saya teater mewakili tontonan yang sempurna karena di dalamnya semua jenis kesenian ada, mulai dari drama, tari hingga musik dan lainnya.

Di waktu luang, apa yang Anda biasa lakukan?
Saya paling suka melamun, namun melamun yang saya lakukan adalah melamun dengan goal. Melamun adalah bagian dari pekerjaan saya sehari-hari. Di sudut ruangan ini atau di ruang atas di mana saya bisa melihat sinar bulan, itulah tempat favorit saya melamun. Melamun itu sangat menyenangkan dan mewah lho! Coba deh!….

Regenerasi dalam Teater Koma?
Saat ini regenerasi di kalangan pemain Teater Koma berjalan dengan sendirinya, selain melalui angkatan. Telah ada dua regenerasi di antara pemain. Seperti anak dari Mona, salah satu pemain, telah menjadi pemusik yang mengiringi pentas. Rangga, putra saya, mulai mengikuti jejak kedua orang tuanya menjadi pemain teater.

Perekrutan anggota baru melalui angkatan yang dilakukan oleh Teater Koma secara berkala kini telah mencapai angkatan ke-12. Setiap angkatan dibekali pengetahuan mengenai dunia teater dalam bentuk kursus pengetahuan dasar teater, dan wajib diikuti selama enam bulan, gratis. Sesudah satu hingga dua tahun ikrar menjadi anggota, baru ia bisa terlibat dalam pementasan.

Mengenai dunia perfilman di Indonesia saat ini?
Menurut saya dunia perfilman di Indonesia sangat bagus; di mana-mana kini kita bisa melihat film-film Indonesia terpampang. Malahan saat ini mencari film Hollywood akan sulit di bioskop-bioskop Jakarta dan sekitarnya. Namun demikian, film-film Indonesia mungkin akan kembali terpuruk jika film-film horror menjadi lebih semarak dibandingkan film-film bermutu seperti Laskar Pelangi, Sherina dan lainnya.

Arti keluarga bagi Nano Riantiarno?
Sangat penting. Ratna, bagi saya, tak tergantikan. Ide-ide saya yang sepertinya tidak mungkin diwujudkan selalu dapat terlaksana dengan bantuan Ratna. Dia dan anak-anak adalah yang terpenting dalam hidup saya. Bahkan dalam setiap cerita-cerita yang saya tulis selalu ada cerita mengenai mereka. Ada sebuah tugu atau monumen mengenai anak-anak saya di setiap cerita yang saya tulis dan dipentaskan.

Semoga dari sedikit postingan diatas bisa membuat para pekerja seni teater lebih bersemangat untuk memberikan karya – karya baru di dunia teater

Source : Garudamagazine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: