Teaterku

27 Okt

Teater..hmm…sebuah memori tersendiri yang bagiku sungguh amat dahsyat.
Mungkin stereotip orang terhadap yang namanya kelompok teater itu sekumpulan orang-orang gila..
Ya kita memang gila, dalam pencarian, eksplorasi atas nama seni.
Kegilaan dalam koridor yang waras. Gak asal gila lah..weleh..weleh..weleh.
Justru sebuah kewarasan bisa di dapet dari orang gila lho, gak percaya ? observasi terus ajah.

Tapi mungkin stereotip itu muncul juga karena ulah temen-temen teater itu sendiri sih..yang gak bisa nempatin diri, gak sadar lingkungan, dimana timing yang tepat untuk mengumbar nafsu berkeseniannya, kebebasannya untuk berkarya..hanya karena atas nama Seni..kita bisa bebas..Tuh gak betul banget..Salah..Jangan di tiru.
Justru orang-orang seni itu Low Profile..emang sih agak nyentrik, kadang kumel…uelueek..tapi itu bukan teaterku, bukan lah aku..huehehe..

Satu hal yang aku sangat seneng ikut teater itu..asli teater itu wadah pembelajaran secara mental, psikologis, pola berfikir dan yang pasti aku bisa lebih mengenal diri ku..”Manusia yang bisa mengenal dan memahami eksistensi dirinya adalah orang-orang yang bisa mengenal Tuhan nya”

Ada pelajaran penting yang bisa ku ambil dari sana..ketika kita harus masuk ke dalam suatu penokohan dalam skenario itu, kita kan harus total, saking dah menjiwai tuh peran terkadang dalam kehidupan sehari-hari peran itu masih kita bawakan..nah itu yang salah..itulah sebabnya maka banyak orang umum bilang kalo teater itu mendidik untuk menjadi gila. Padahal itu mutlak kesalahan individu itu sendiri

Kerangka berfikirnya seperti ini. Ada dua analogi yang muncul.
Biasa di sebuah naskah ada tokoh, nah kita dengan sadar tau bahwa di naskah itu ada alur cerita tentang penokohan itu.
Misal : Seorang Wenny harus memperankan sebuah tokoh seorang pelacur. Ada dua lakon di situ, Sang Pelacur dan Wenny itu sendiri. Di realita Wenny bukanlah seorang pelacur, tapi di naskah dia adalah pelacur.
Secara sadar ada Wenny dan ada tokoh Sang Pelacur yang harus di pelajari
Nah kalo di naskah kehidupan dengan sang sutradaranya adalah Alloh..ada dua peran yang harus di lakoni seorang Wenny ini, yaitu peran sebagai Wenny dan Wenny yang hakiki ini (kita sebut aja Ruh Murni Wenny)
Permasalahan yang sering terjadi ketika kita menjiwai sebuah penokohan skenario panggung ini adalah..kita harus bener-bener observasi, mengamati, belajar tiap detail dan inci dari tokoh yang bakal di perani ini, baik karakter, warna dan lain sebagainya sehingga bener-bener menemukan jiwa dari peran itu sendiri.
Gampang banget kalo berurusan dengan penokohan di dunia kasat mata ini..kuncinya belajar, sadar lingkungan, karena tau ending ceritanya..gak abstrak
Tapi kalo sudah berurusan dengan penokohan dari Illahi ini..bingung..boro-boro tau ending ceritanya..memahami siapa Ruh Murni nya aja bingung..waaaa..

Dia

13 Tanggapan to “Teaterku”

  1. nababanlens Oktober 28, 2009 pada 2:28 pm #

    Theatrikal itu indah ^^
    seni peran yg berisikan makna kehidupan , ga seperti sinetron-sinetron indonesia :b

    “Biarlah theater terus berputar layaknya bumi dan biarlah sang pemeran memberi keindahan layaknya bintang” ~hehehehe~

    • teaterbumi Oktober 28, 2009 pada 10:49 pm #

      aku 100% setuju nih…sekarang entah kenapa kualitas film indonesia (Sinetron) udah makin gak karuan tuh…bersimpati pada dunia peran…

  2. Yella Ojrak Oktober 28, 2009 pada 2:43 pm #

    Jadi inget dulu ikut teater. Kalo pas ada pementasan, aku selalu ambil peran sebagai orang yang duduk di sudut tergelap dari panggung, mukul-mukul bodi-nya bongo, petik-petik kecapi, dsb buat ngiringi adegan. Hahahaha! Sadar diri, penguasaan panggung kurang mumpuni. Tapi kalo di depan kamera… Jangan tanya…

    • teaterbumi Oktober 28, 2009 pada 10:51 pm #

      wah…mba yella juga anak teater…keren..keren…klo boleh tau yella tinggal didaerah mana?

      • Yella Ojrak Oktober 30, 2009 pada 5:23 am #

        Dulu sih di Surabaya, ikut komunitas teaternya temen-temen kuliah. Sekarang di Blitar, ikut suami, ga main teater lagi. Sebenernya pengen bikin sendiri di Blitar, tapi belum ada waktu. Nanti aja lah…

      • teaterbumi Oktober 30, 2009 pada 2:11 pm #

        mantep sekali tu idenya..buat teater baru..bisa jadi komunitas baru…kita bisa share naskah2 teater dunk dari blitar ni..sapa tau aja mba yella mau ngirimin naskah2 dari sana kemari…hehehe..ditunggu lho..lewat email kan bisa tuh…

  3. AfriE Oktober 29, 2009 pada 7:54 am #

    Ooh yeah…Kehidupan ini adalah panggung sandiwara…
    Memiliki banyak karakter dalam 1 jiwa… Kadang kita menjadi seorang antagonis kadang protagonis, di kehidupan yg melankolis.. Indahnya hidup…

    • teaterbumi Oktober 29, 2009 pada 11:44 am #

      Buseeet dah si afrie…mantep…satu lagi lahir sastrawan muda kita…hehehe….lanjutkan saudara…belajarlah dan terus belajar agar kau lebih mengenal hidup.

  4. ocekojiro Oktober 31, 2009 pada 2:07 am #

    wah wah..
    sy mau mencari kewarasan yg didapat dari orang gila…
    Apa kita harus ikut gila dulu baru memulai ? he he

    • teaterbumi Oktober 31, 2009 pada 4:52 am #

      wah…mas ocekojiro…aya2 wae…yang kita butuhkan observasinya mas..hehehe..tapi klo mau jadi gila dulu juga bisa..asal bisa kembali saja…

  5. AfriE Desember 8, 2009 pada 4:20 pm #

    Bumi kalo di teatermu, pake backsound alat musik asli, kitaro, ato game?

    • teaterbumi Desember 9, 2009 pada 7:47 am #

      Kalo di Teater Bumi..kami pakai alat musik langsung gak pake keyboard atau CD…tapi klo untuk musik pembukaan (saat lagi pasang setting di panggung) biasanya kami putar lagu yang semangat tuk penyemangat..klo dah pentas semua musik gak ada yang pake listrik…mau pentas green?

      • benyamin sira Mei 11, 2010 pada 9:09 am #

        mas.. wq mw ikut teater kira… bs ga ya… q pengen jadi artis… kira2 ntar lo ikt teater bisa masuk tv ga… kaya shahruk khan… kata org sc… wajah sharukh khan mirip aq…. mmm tu kan q jadi malu nc…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: