Malam dan detak jam menjadi teman diamku malam ini, meski dari tadi aku juga tahu ada seekor cicak yang asik mengintip dari celah ventilasi berserabut sarang laba – laba. Hanya diam dan menghitung kepekatan malam dalam hatiku, ada yang mengganjal dari 2 jam lalu selama aku melekatkan pantatku di kursi setengah basah ini. Entah, apa aku masih bisa menikmati kesendirianku malam ini atau harus memecah sunyi dengan berbincang kering bersama detak jam. Barusan ada yang terlintas tapi masih saja samar, ada yang sakit tapi aku lupa letaknya dimana, aku lupa dimana aku menaruh senyumku kemarin pagi.
Hem…kesendirian memang lebih nikmat dari sebuah ciuman mesra seorang kekasih, hem.. kesendirian memang lebih asik dari sebuah obrolan bersama kerabat dekat, hem..kesendirian memang lebih sepi dari bentangan gelap malam ini.
Malam masih saja melekat di punggungku, tanpa nada tanpa suara hanya di punggungku, tak berbicara tak juga menyapa hanya dipunggungku, seperti mengerti jika aku lebih mencintai kesendirianku daripada cinta itu sendiri. Kuubah pandanganku keatas langit dengan tumpahan seribu sunyi masih saja kutemukan hitam keabadian yang lagi nyengir sambil meniupkan asap tebal kewajahku.
Sunyi itu bukan kesendirian, malam tanpa nada itu bukan kesendirian, diam pun bukan kesendirian, menangis pada pekat malam pun bukan kesendirian namanya. Kesendirian itu adalah aku.
Aku duduk disini karena aku menghargai kenyataan, aku berdiam disini karna aku menghargai lembaran malam, aku dan kursi setengah basah ini adalah saksi kesendirian malam ini.
Berau, 11 Maret 2011
Aku dan Kesendirianku
Tag:kesendirian, kesendirianku, sendiri, sepi










keren juga
SENDIRI ?? menarik hehe
mau berbagi sedikit ungkapanku tentang kesendirian ya hehe : http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/10/13/terdiam-sendiri/